3/29/2016

Mempersiapkan Remaja untuk Menjadi Pemimpin Tangguh




Remaja adalah aset yang akan meneruskan cita-cita suatu bangsa, Negara bahkan dunia1. Kegemilangan suatu Negara di masa depan tergantung pada seberapa baik ia mempersiapkan para remaja untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Islam memandang, bahwa mempersiapkan remaja agar memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan adalah sangat penting.
Sejarah kekhilafahan Islam Utsmaniyah telah memberikan teladan agung, saat sultan murad II mempersiapkan putranya Sultan Muhammad al-fatih dalam rangka melanjutkan estafet kepemimpinan pemerintahan kekhilafahan Islam Utsmaniyah. Sultan Murad II mendidik al-fatih dengan sungguh-sungguh. Sejak usia kanak-kanak, al-fatih telah diajarkan bagaimana cara menunggang kuda, memanah, dan menggunakan pedang. Dari segi ruhiyah al-fatih telah ditarbiyah secara intensif oleh al-Syeikh Muhammad bin Ismail al-Kurani atas izin ayahnya. Beliau mengajarkan al-fatih ilmu-ilmu al-Quran, al-Hadits, fiqih, linguistik (bahasa arab, Persia dan turki), dan juga ilmu kemahiran yang lain. Setelah mendapatkan berbagai bekal untuk melanjutkan estafet kepemimpinan, selanjutnya pada usia ke 22, al-fatih diangkat menjadi khalifah kekhilafahan Islam Utsmaniyah dan pada usia ke 26 beliau berhasil membebaskan kota konstantinopel dan menyebarluaskan dakwah islam2.
Berbanding terbalik dengan sejarah kekhilafahan Islam Utsmaniyah, saat ini Negara lalai dalam membimbing remaja agar memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Terjadi banyak penyimpangan yang dilakukan oleh para remaja, mulai dari penyalahgunaan narkoba, akses media porno, seks bebas, aborsi, prostitusi, tawuran hingga geng motor3. Sebagimana data yang dilansir oleh detikHealth, rabu 6/6/2012 menyatakan bahwa 50-60 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan remaja yakni kalangan pelajar dan mahasiswa. Total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI sebanyak 3,8 sampai 4.2 juta. Pakar psikologi UI Zoy Amirin, mengutip sexual behavior survey 2011, menunjukan bahwa 64 persen anak muda di kota-kota besar Indonesia 'belajar' seks melalui film porno atau DVD bajakan. Akibatnya, 39 persen responden ABG usia 15-19 tahun sudah pernah berhubungan seksual, sisanya 61 persen berusia 20-25 tahun. Bagaimana mungkin, estafet kepemimpinan diserahkan kepada mereka, para remaja yang memiliki akhlak tercela?
Keluarga hingga Negara bertanggung jawab atas kerusakan akhlak remaja4. Keluarga adalah sekolah pertama bagi tiap anak. Orang tua adalah benteng pertama melindungi remaja dari kerusakan akhlak. Negara adalah institusi politik tertinggi yang mampu menetapkan aturan untuk menyelamatkan akhlak remaja. Namun, sebagaimana fakta yang disampaikan di atas, keluarga dan Negara belum mampu menyelesaikan berbagai problem penyimpangan yang dilakukan oleh remaja. Perlu adanya pembinaan intensif dan inovatif untuk menuntun remaja agar memiliki akhlak terpuji sehingga mereka mampu memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Pembinaan yang dikonsep secara kreatif, sesuai dengan karakteristik remaja yang penuh dengan keceriaan dan rasa ingin tahu yang tinggi.
Keberadaan aktivis dakwah kampus saat ini, memiliki peran penting untuk membina para remaja agar sesuai dengan tuntunan Islam. Remaja perlu dibina sejak ia masih bersekolah di bangku SLTP, usia pelajar SLTP adalah usia dimana mereka beranjak dari masa kanak-kanak menuju masa awal remaja, sehingga perlu pendampingan secara intensif agar mereka mampu beradaptasi dengan status barunya sebagai remaja.
Program pembinaan remaja, harus dikemas semenarik mungkin. Sehingga remaja merasa nyaman dengan program yang meraka ikuti. Adapun program pembinaan remaja yang dapat dijalankan adalah kajian islam remaja, hiking, halaqah hingga menonton film inspiratif. Melalui berbagai pembinaan tersebut diharapkan akan tumbuh kesadaran para remaja untuk menjalankan aktivitasnya sesuai dengan syariat Islam. Sehingga diharapkan akan muncul sosok sultan Muhammad al-fatih berikutnya yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dan berjuang untuk melanjutkan kehidupan Islam.
1 http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/04/keluarga-hingga-negara-bertanggung-jawab-atas-kerusakan-moral-remaja/
2 http://halaqah.net/v10/index.php?topic=6434.0
3 http://www.syababindonesia.com/2012/11/kenakalan-remaja-di-negeri-ini-kian.html
4 http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/04/keluarga-hingga-negara-bertanggung-jawab-atas-kerusakan-moral-remaja/

No comments:

Post a Comment