
Oleh : A Dimmy Zulhifansyah
Taubat sesungguhnya merupakan panggilan Allah. Manusia sama sekali tidak bisa membuat dirinya sendiri ingin bertaubat. Allah sendirilah yang menumbuhkan keinginan bertaubat di dalam kalbu Anda.
Sebagaimana firman-Nya :
"Barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak akan mampu menempuh jalan itu kecuali bila dikehendaki Allah." (QS. 76 : 29-30)
"...Bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. 81 : 28-29)
Keinginan taubat itu timbul karena dipilih-Nya. Maka dari itu, jika sekarang dalam hati anda mulai timbul kegelisahan makna hidup atau keinginan kembali kepada-Nya, mulai timbal akan ketenteraman bersama-Nya, mulai ingin mencari jalan-jalan yang mendekatkan diri kita kepada-Nya. Itu adalah panggilan-Nya. Maka sambutlah panggilan-Nya itu.
Jika kemudian mulai tumbuh perilaku kita yang 'mencari jejak-Nya', seperti mencari-cari pengajian yang baik, mencari-cari bahan di internet, mulai mencari-cari buku tentang Tuhan dan agama, maka syukurilah. Ini berarti bahwa Dia masih mengingat anda. Dia masih memanggil anda untuk mendekat, untuk pulang kepada-Nya. Allah sendirilah yang menumbuhkan keinginan ke dalam hati anda.
Oleh karena itu, janganlah kita sia-siakan kesempatan ini. Jangan abaikan panggilan-Nya ini. Jangan sampai Dia merasa panggilan-Nya kita abaikan. Karena sebagaimana kita pun, jika orang yang kita harapkan terus mengabaikan kita, lama-kelamaan kita akan melupakan orang itu. Camkanlah, bahwa tidak setiap orang akan dipanggil-Nya. Tidak setiap orang terpilih untuk ditaubatkan-Nya. Sangat sedikit orang yang ditumbuhkan keinginan untuk mulai mencari Allah di dalam hatinya.
Perhatikanlah, bahwa amat banyak orang mencari pengajian dengan niat mencari kawan, mencari kelompok, mencari pengakuan orang lain sebagai 'orang pengajian', mencari ketenteraman sesaat, meniti karir di partai politik, mencari hapalan dan pengetahuan ayat, mencari bahan diskusi dan sebagainya. Sangat sedikit, sekali lagi sangat sedikit, orang yang benar-benar mencari pemahaman akan hakikat hidup maupun kesejatian (Al-Haqq).
Jika kita tidak mau bertaubat, tidak mengindahkan panggilan-Nya itu, maka kita termasuk orang yang zalim. Definisi 'zalim' menurut Al-Qur'an adalah tidak mau bertaubat.
"Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. 49 : 11)
Jika panggilan-Nya ini kita abaikan, maka kita akan semakin berputar-putar saja di dunia ini dan kalbu kita akan semakin buta saja. Oleh karena itu, akan semakin susah sajalah kita memperoleh petunjuk-Nya, ketika kalbu kita menjadi buta.
"Dan barang siapa yang berpaling dari dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. 20 : 124)
"Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah qaib-qaib (quluubun) yang ada di dalam dada." (QS 22 : 46)
Apakah "Taubat"?
Apakah taubat itu? Taubat bukanlah istighfar. Hanya semata mengucapkan 'astaghfirullah', walaupun seribu kali bukanlah taubat. Sebagaiamana Qur'an mengatakan: "Karena itu beristighfarlah kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya." (QS. 11 : 61). Maka dari ayat di atas, jelas nampak bahwa istighfar dan taubat adalah hal yang berbeda.
Kata 'taubat' berasal dari kata 'taaba' artinya 'kembali'. Taubat adalah sebuah 'keinginan', kegandrungan, kebutuhan akan Allah maupun segala yang dapat membuat kita lebih mengenal-Nya. Oleh karena itu, landasan taubat adalah mencari Allah, mencari kesejatian, mencari hakikat kehidupan ini. Orang bisa saja mengucap istighfar ribuan kali sehari, tapi sama sekali tidak bertaubat.
Orang bisa zikir ribuan kali, dengan niat supaya cerdas, supaya sakti, supaya bisa mengobati, supaya karir bagus, supaya lulus ujian dan macam-macam. Rajin shalat malam. Supaya berwajah cerah dan cantik. Rajin puasa, supaya sehat, supaya tidak gemuk. Dimana Allahnya? Mungkin Allah kita tempatkan nomor dua atau tiga.
Maka dari itu, pertama sekali kita murnikan niat kita dahulu. Kita niatkan semuanya hanya untuk kembali kepada-Nya (taubat), supaya semakin diberi-Nya petunjuk bagaimana taubat yang benar itu. Supaya diajari-Nya hakikat kehidupan ini.
Junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW mengucapkan do'a berikut ini, yang dibaca setiap kali beliau selesai berwudhu :
"Allahummaj'alni minat-tawwabiin, waj'alni minal muthahhiriin."
"Ya Allah, jadikan hamba termasuk ke dalam 'At-Tawwabiin' (mereka yang bertaubat), dan jadikan hamba termasuk ke dalam 'Al-Muthahhiriin' (mereka yang disucikan)."
Bahkan Rasulullah SAW pun masih memohon kepada Allah untuk dimasukkan ke dalam golongan orang yang bertaubat. Bukankah Rasulullah telah suci, bebas dosa dan telah dijamin surga Allah ta'ala?
Sumber : Majalah Hilal edisi 22
No comments:
Post a Comment