3/29/2016

semua ada ilmunya



selamat pagi desa babakan peteuy!”
kebaikan yang dilakukan haruslah dengan ilmu, sesuai dengan apa yang dituntunkan rasul dan niat yang ikhlas, agar bernilai pahala. #KKNUPI” adalah kalimat lengkap yang saya tulis kemarin sore di display BBM, sebagai bahan kontemplasi menjelang berbuka. sebagai contoh, ada percakapan menarik yang terjadi di media sosial. kurang lebih seperti ini percakapannya. “cita-cita saya selepas wisuda mau ngelanjutin kuliah lewat LPDP!” sahut orang pertama, “wih, mantap. udah dapet berapa skor toeflnya?” Tanya orang kedua. “apa toefl teh?” jawab orang pertama. waduh gak bener ini cita-citanya mulia, tapi sayang ilmu untuk mewujudkannya gak ada. masih ada contoh yang sejenis dalam kehidupan kita sehari-hari, missal banyak harakah dakwah yang berjuang untuk menegakkan islam di penjuru dunia dalam satu institusi yang disebut khilafah, namun tak dibarengi dengan ilmu. apa yang terjadi? cita-cita tersebut tak kunjung terealisasi, bahkan makin menjauhkan dari cita-cita mulia tersebut. selain itu karena metode dakwah yang tak sesuainya dengan apa yang nabi SAW sampaikan. dimana rasul berdakwah untuk mendirikan khilaf melalui tiga tahapan, pertama adalah tahapan kaderisasi dan pembinaan kedua tahap sosialisasi dan berinteraksi dengan umat dan terakhir tahapan penerapan peraturan islam secara sempurna melalui mekanisme pembaiatan.

Apapun problemnya islam solusinya


Cicalengka, 6/7/2015
Tinggal empat hari lagi berada di sini, memanfaatkan waktu di massa periode pertama KKN Tematik UPI. sore kemarin menjelang berbuka saya berkenalan dengan salah seorang mahasiswa Universitas Islam di bandung yang sedang mengantarkan temannya melakukan penelitian terhadap para tuna netra yang sedang mengikuti perlombaan tahfidz qur’an juz 30 bagi penyandang tuna netra, masya Allah luar biasa. saya tak ingat siapa nama mahasiswa tersebut, namun yang saya ingat adalah jurusan yang ia tekuni adalah jurusan hukum perdata islam. hmm saat mendengar informasi tersebut timbul rasa tertarik saya untuk banyak berdiskusi dengan beliau. perbincang saya mulai dengan melontarkan pertanyaan seputar BMT (Baitul Mal wa Tamwir), lalu mengenai hukum waris hingga pergerakan politik mahasiswa. namun yang paling seru adalah saat membahas mengenai mekaisme penerapan hukum islam jika diterapkan secara kaffah di Indonesia. beliau menyatakan bahwa hukum yang diterapkan di Indonesia adalah hukum warisan belanda dan jika indonesia menerapakan hukum islam secara sempurna di seluruh lini, mulai dari sistem politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan hingga hubungan luar negeri pasti akan sejahtera. fikir saya, setuju dengan opini beliau dan diperlukan banyak mahasiswa yang memiliki pemikiran tersebut hingga akhirnya pergerakan mahasiswa memiliki satu visi untuk memperjuangkan tegaknya ideologi islam agar hukum islam tegak di Indonesia.

Bak penjual dengan pembeli.


Cicalengka, 5/7/2015
sore ini saya akan bercerita beberapa hal yang kemarin belum sempat saya tulis. pagi yang cerah kala itu menyapa kantor desa, saya dan kawan-kawan kelompok kkn telah membuat janji untuk bertemu dengan pak kepala desa. kepala desa belum juga datang, setelah 15 menit larut dari perjanjian, namun bukan hal tersebut yang akan dibahas lebih mendalam, namun wajah saya tersorot pada fenomena yang memang lazim saya temui. “assalamu’alaikum, punten pak, abdi bade ngadamel KTP”1 imbuh salah seorang warga, “mangga, bla, bla, bla….”2 panjang lebar percakapan antara aparat desa dengan salah seorang warga. diakhir pembicaraan sang warga bergumam, “punten pak, sabarahaeun?”3 “ah, mun aya syukur, teu oge teu nanon”4 saut sang aparat desa. beginilah wajah administrasi negeri ini, yaa Indonesia! dimana hubungan antara pemimpin dengan masyarakat bagaikan hubungan antara penjual dengan pembeli, bagaikan penyewa dengan pihak yang memberikan sewa, bukan ibarat pelindung dan pelayan, sang pemimpin melindungi dan melayani masyarakatnya. mari kita lihat figur khalifah umar bin abdul azis, saat pertama kali dirinya dibaiat oleh umat untuk menjadi khalifah, ucapan pertama yang beliau lontarkan adalah “innaillahi wa innalillahi roji’un”. beliau sangat berhati-hati dengan amanah tersebut, karena beliau meyakini bahwa, jabatan yang umat serahkan adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban di hari perhitungan. di hari pertama setelah beliau dilantik, bala tentara yang jumlahnya puluhan yang oleh khilafah sebelumnya disiapkan untuk menjaga istana negara, beliau instruksikan untuk menyebar ke seluruh wilayah kekhilafahan, dengan maksud agar tak ada sekat antara pemimpin dan masyarakat, cukup satu tentara yang beliau tempatkan di dalam istana. tak hanya itu, gubernur-gubernur korup paska peninggalan kekhilafahan sebelumnya beliau copot kekuasaannnya dan beliau ganti dengan gubernur yang amanah dan mampu melindungi dan melayani rakyat. lalu bagaimana lagi upaya yang dilakukan oleh khalifah umar bin abdul azis agar umat terlindungi dan terlayani oleh negara? pernikahan bagi masyarakat yang tak mampu, beliau gratiskan dan utang rakyat yang tak mampu membayarnya beliau bayarkan. bahkan kas BMT Negara yang semestinya dibagikan kepada masyarakat yang tak mampu sudah tak sanggup lagi dibagikan, karena tak ada lagi masyarakatnya yang di bawah garis kemiskinan. masya Allah.
kegiatan penerimaan oleh kepala desa telah selesai… sepulang dari kantor desa, kami disambut oleh anak-anak yang sedang bermain di depan posko, permainan tradisional unik yang baru pertama kali saya lihat, namanya bermain biji karet. rulenya, adalah sekumpulan biji karet yang digenggam di tangan lalu disebar ke atas lantai, dan setelah bersebaran bebas, satu demi satu biji harus saling ditubrukkan menggunakan jari, jika biji yang kita hempaskan oleh jari mengenai lebih dari satu biji yang lain, maka permainan harus dipindahkan ke pemain yang lain, siapa yang mendapatkan biji paling banyak, maka ia berhak mendapatkan predikat juara :) siang beranjak sore, sesaat menjelang adzan maghrib, anak-anak yang tadi bermain dengan kami (saya dan kawan-kawan KKN) masih bertahan di posko dan berniat berbuka puasa bersama dengan kami. “kalau aku, kakak yang paling diinget waktu KKN tahun kemarin, kak indra” sahut seoarang anak perempuan kelas lima SD. ”soalnya kak indra tuh ganteng, hitam manis” lanjut dia menambahkan. ehm, ada yang menarik dari percakapan mereka, percakpan tersebut hemat saya adalah representasi realita generasi muda saat ini, dimana bentuk fisik adalah penilaian pertama yang terngiang dari representasi seseorang, bukan lagi karakter, bukan lagi dikenal karena ia rajin ke masjid bukan lagi dikenal karena jilbabnya yang syar’i, bukan lagi dikenal karena rajinnya ia membaca qur’an. rindu rasanya mendengar ucapan “kalau aku kakak yang paling di sayang adalah kak fitri, karena kak fitri jilbabnya lebar dan suka ngajak aku ke masjid”. seneng dengernya kalau seoarang anak perempuan mengidolakan kakak perempuan, bukan kakak laki-laki.
wallahu'alam
1 “Assalamu’alaikum, maaf pak saya mau membuat KTP”
2 “silahkan, bla… bla… bla…”
3 “maaf pak, saya harus bayar berapa?”
4 “ah, kalau ada syukur, kalau ndak ada ndak apa-apa”

Negeri ini butuh kamu! Mahaiswa




Berawal dari masalah, melihat fenomena negeri yang sedang bersedih. Kesadaran untuk berbuat adalah keniscayaan bagi setiap muslim.
pak, negeri kita adalah negeri dengan mayoritas muslim terbanyak, ko’ umat muslim malah tertindas?” tanya seorang anak pada ayahnya. “ade, emang bener kalo negeri ini berpenduduk mayoritas muslim, tapi sebagian besar umat muslim sudah tak cinta apalagi menerapkannya dalam segala aspek kehidupan” jawab sang ayah.
Sudah 70 tahun bangsa ini merdeka dari penjajahan fisik, mulai portugis, jepang hingga belanda bercokol di bumi pertiwi merampas sumber daya negeri, para ulama, santri, hingga petani meneriakan cita-cita yang sama, MERDEKA! Sudah 70 tahun negeri ini bergonta-ganti sistem pemerintahan, namun dampaknya tak begitu berarti. Sudah 70 tahun pemerintahan ini dipimpin oleh penguasa, mulai dari kalangan kyai, kalangan ilmuwan, kalangan militer, kalangan pengusaha hingga kalangan yang oleh banyak orang disebut wong cilik, namun hanya pergantian rezim yang meninggalkan segudang permasalahan.
Negeri ini sedang bersedih, anak-anak kehilangan kasih sayang lembut sang ibu, karena sang ibu asyik bekerja menambah penghasilan sang ayah, para remaja tak betah tinggal di rumah, dunia luar begitu menggoda bagi mereka. Yah! Sangat menggoda. Mahasiswa, terbelenggu dengan massa kuliah yang lebih singkat dengan beban SKS yang lebih banyak. Para ibu cemas bagaimana mengurus putra-pitrinya agar menjadi putra-putri yang soleh dan solehan di zaman mencekang saat ini.
Negeri ini sedang sakit, pereknomian lesu bahkan rupiah menembus 13.700 per dollarnya. Kebebasan beragama pun tergoyahkan dengan insiden tolikara yang terjadi saat moment idul fitri. Pengangguran semakin tinggi karena pemerintah lebih doyan import tenaga kerja dari cina. Apalagi kesehatan, BPJS bermasalah hingga terlontar sebuah pernyataan bahwa orang miskin dilarang sakit.
Negeri ini butuh kesadaran dari kamu, ya! Kamu mahasiswa, karena mahasiswa bukan sekedar predikat dan bukan juga sekedar prestise, tapi ia adalah sebuah tanggung jawab yang mesti ditunaikan. Penyambung lidah masyarakat terhadap penguasa serta penggerak untuk mencerdaskan masyarakat. Bukan sekedar menyelenggarakan event perlombaan namun mesti menyuarakan kebenaran, bukan sekedar gaya-gayaan namun perlu kecerdasan, dan bukan sekedar perjuangan, namun perjuangan yang dialndaskan pada keimanan.
Ya! Sekali lagi, negeri ini butuh kamu, untuk bergerak bersama mencerdaskan masyarakat indonesia tentang indahnya islam, agar islam membumi di bumi pertiwi. Agar islam menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan negeri, karena islam bukan sekedar agama yang mengurus orang yang sudah mati, tapi ia adalah agama yang mengurus orang yang masih hidup dalam segala aspek kehidupan.
Cicalengka, 19 Agustus 2015 06:47

Mempersiapkan Remaja untuk Menjadi Pemimpin Tangguh




Remaja adalah aset yang akan meneruskan cita-cita suatu bangsa, Negara bahkan dunia1. Kegemilangan suatu Negara di masa depan tergantung pada seberapa baik ia mempersiapkan para remaja untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Islam memandang, bahwa mempersiapkan remaja agar memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan adalah sangat penting.
Sejarah kekhilafahan Islam Utsmaniyah telah memberikan teladan agung, saat sultan murad II mempersiapkan putranya Sultan Muhammad al-fatih dalam rangka melanjutkan estafet kepemimpinan pemerintahan kekhilafahan Islam Utsmaniyah. Sultan Murad II mendidik al-fatih dengan sungguh-sungguh. Sejak usia kanak-kanak, al-fatih telah diajarkan bagaimana cara menunggang kuda, memanah, dan menggunakan pedang. Dari segi ruhiyah al-fatih telah ditarbiyah secara intensif oleh al-Syeikh Muhammad bin Ismail al-Kurani atas izin ayahnya. Beliau mengajarkan al-fatih ilmu-ilmu al-Quran, al-Hadits, fiqih, linguistik (bahasa arab, Persia dan turki), dan juga ilmu kemahiran yang lain. Setelah mendapatkan berbagai bekal untuk melanjutkan estafet kepemimpinan, selanjutnya pada usia ke 22, al-fatih diangkat menjadi khalifah kekhilafahan Islam Utsmaniyah dan pada usia ke 26 beliau berhasil membebaskan kota konstantinopel dan menyebarluaskan dakwah islam2.
Berbanding terbalik dengan sejarah kekhilafahan Islam Utsmaniyah, saat ini Negara lalai dalam membimbing remaja agar memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Terjadi banyak penyimpangan yang dilakukan oleh para remaja, mulai dari penyalahgunaan narkoba, akses media porno, seks bebas, aborsi, prostitusi, tawuran hingga geng motor3. Sebagimana data yang dilansir oleh detikHealth, rabu 6/6/2012 menyatakan bahwa 50-60 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan remaja yakni kalangan pelajar dan mahasiswa. Total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI sebanyak 3,8 sampai 4.2 juta. Pakar psikologi UI Zoy Amirin, mengutip sexual behavior survey 2011, menunjukan bahwa 64 persen anak muda di kota-kota besar Indonesia 'belajar' seks melalui film porno atau DVD bajakan. Akibatnya, 39 persen responden ABG usia 15-19 tahun sudah pernah berhubungan seksual, sisanya 61 persen berusia 20-25 tahun. Bagaimana mungkin, estafet kepemimpinan diserahkan kepada mereka, para remaja yang memiliki akhlak tercela?
Keluarga hingga Negara bertanggung jawab atas kerusakan akhlak remaja4. Keluarga adalah sekolah pertama bagi tiap anak. Orang tua adalah benteng pertama melindungi remaja dari kerusakan akhlak. Negara adalah institusi politik tertinggi yang mampu menetapkan aturan untuk menyelamatkan akhlak remaja. Namun, sebagaimana fakta yang disampaikan di atas, keluarga dan Negara belum mampu menyelesaikan berbagai problem penyimpangan yang dilakukan oleh remaja. Perlu adanya pembinaan intensif dan inovatif untuk menuntun remaja agar memiliki akhlak terpuji sehingga mereka mampu memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Pembinaan yang dikonsep secara kreatif, sesuai dengan karakteristik remaja yang penuh dengan keceriaan dan rasa ingin tahu yang tinggi.
Keberadaan aktivis dakwah kampus saat ini, memiliki peran penting untuk membina para remaja agar sesuai dengan tuntunan Islam. Remaja perlu dibina sejak ia masih bersekolah di bangku SLTP, usia pelajar SLTP adalah usia dimana mereka beranjak dari masa kanak-kanak menuju masa awal remaja, sehingga perlu pendampingan secara intensif agar mereka mampu beradaptasi dengan status barunya sebagai remaja.
Program pembinaan remaja, harus dikemas semenarik mungkin. Sehingga remaja merasa nyaman dengan program yang meraka ikuti. Adapun program pembinaan remaja yang dapat dijalankan adalah kajian islam remaja, hiking, halaqah hingga menonton film inspiratif. Melalui berbagai pembinaan tersebut diharapkan akan tumbuh kesadaran para remaja untuk menjalankan aktivitasnya sesuai dengan syariat Islam. Sehingga diharapkan akan muncul sosok sultan Muhammad al-fatih berikutnya yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dan berjuang untuk melanjutkan kehidupan Islam.
1 http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/04/keluarga-hingga-negara-bertanggung-jawab-atas-kerusakan-moral-remaja/
2 http://halaqah.net/v10/index.php?topic=6434.0
3 http://www.syababindonesia.com/2012/11/kenakalan-remaja-di-negeri-ini-kian.html
4 http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/04/keluarga-hingga-negara-bertanggung-jawab-atas-kerusakan-moral-remaja/