11/13/2016

Hukum Wanita Muslimah Ikut Demo


Tanya :
Ustad, apa hukumnya wanita muslimah ikut demonstrasi? (Felix Y. Siauw)


Jawab :
Demonstrasi (muzhaharat) adalah penyampaian pendapat atau perasaan di hadapan publik secara berjama’ah baik kepada penguasa, partai politik, maupun kepada pihak-pihak lainnya. (Abdurrahman Sa’ad Al Syatsri, Al Muzhaharat fi Mizan Al Syari’ah Al Islamiyyah, hlm. 6; Muhyiddin Al Qarahdaghi, At Ta`shil Al Syar’i Li Al Al Muzhaharat As Silmiyyah, hlm. 3).

Kami akan jelaskan dulu hukum demonstrasi secara umum, baru hukum demonstrasi bagi wanita muslimah. Mengenai hukum demonstrasi secara umum, ada dua pendapat ulama kontemporer.

Pertama, mengharamkan, misalnya pendapat Nashiruddin Al Albani, Abdurrahman bin Sa’ad Al Syatsri, Abdul Aziz bin Abdullah Ar Rajihi, Abdul Aziz bin Baz, dan Shalih Al Fauzan. Demonstrasi diharamkan antara lain karena dianggap memberontak kepada penguasa (al khuruuj ‘ala waliy al amr) dan banyak menimbulkan berbagai penyimpangan syariah seperti ikhtilat (campur baur pria dan wanita) dan berbagai mudharat (seperti perusakan fasilitas publik).

Kedua, membolehkan dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya pendapat Yusuf Qaradhawi, Ziyad Ghazzal, M. Abdullah Al Mas’ari, dan Muhyiddn Al Qarahdaghi. Mereka membolehkan demonstrasi karena dianggap sebagai cara (uslub) dalam amar ma’ruf nahi munkar atau menyampaikan nasehat kepada penguasa, dengan syarat-syarat tertentu misalnya tujuan demonstrasi harus sesuai syariah, dan tidak disertai hal-hal yang diharamkan seperti ikhtilat dan menggunakan kekerasan/senjata. (Lihat Abdurrahman bin Sa’ad Al Syatsri, Al Muzhaharat fi Mizan Al Syari’ah Al Islamiyyah, hlm. 14-47; Ziyad Ghazal, Masyru’ Qanun Al Ahzab fi Ad Dawlah Al Islamiyyah, hlm.15-27; M. Abdulah Al Mas’ari, Muhasabah Al Hukkam, hlm. 39-59; Muhyiddin Al Qarahdaghi, At Ta`shil Al Syar’i Li Al Al Muzhaharat As Silmiyyah, hlm.5-19).

Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat yang membolehkan demonstrasi dengan syarat-syarat tertentu. Karena bolehnya demonstrasi sesungguhnya sudah tercakup dalam dalil-dalil umum yang mensyariatkan amar ma’ruf nahi munkar atau menyampaikan nasehat kepada penguasa. (M. Abdulah Al Mas’ari, Muhasabah Al Hukkam, hlm. 5).

Namun bolehnya demonstrasi tersebut wajib dibatasi dengan 3 (tiga) syarat agar tidak terjadi penyimpangan syariah; (1) tujuan demonstrasi wajib sesuai dengan syariah, misal mengajak penguasa menerapkan syariah. Dalil syarat ini kaidah fiqih “Al Wasa`il tattabi’u al maqashid fi ahkamihaa”. (Segala jalan/perantaraan itu hukumnya mengikuti hukum tujuan). (M. Shidqi Al Burnu, Mausu’ah Al Qawa’id Al Fiqhiyah, Juz XII, hlm. 99). (2) demonstrasi wajib dilaksanakan secara damai, yakni tidak menggunakan kekerasan/senjata. Dalilnya larangan Nabi SAW untuk menggunakan senjata dalam menasehati penguasa,”Barangsiapa yang menghunus senjata atas kami maka dia bukan golongan kami.” (man hamala ‘alayna as silah falaysa minna). (HR Bukhari 6480 & Muslim 161). (3) demonstrasi tidak boleh disertai segala hal-hal yang diharamkan syariah, misalnya merusak fasilitas publik, ikhtilat, dan tabarruj. Dalilnya dalil-dalil umum yang melarang melakukan segala hal yang diharamkan.

Hukum demonstrasi untuk wanita muslimah adalah boleh, mengikuti hukum bolehnya demonstrasi secara umum tersebut. Hanya saja, ditambah 4 (empat) syarat lagi; (1) diizinkan oleh suami (atau ayah bagi yang belum nikah) (lihat QS An Nisaa`: 34); (2) mengenakan busana muslimah yang sempurna (jilbab dan khimar/kerudung) (lihat QS An Nuur: 31 & Al Ahzab: 59); (3) tidak tabarruj (misalnya mengenakan baju yang ketat) (lihat QS An Nuur: 60); (4) tidak mengeluarkan suara tak pantas yang dapat membangkitkan syahwat (lihat QS Al Ahzab: 32). Wallahu a’lam. (Syariah Publications; www.shariapub.com)

10/15/2016

Mubalighoh Garda Terdepan Selamatkan Keluarga dan Generasi

Sabtu (15/10) bertempat di Gedung Badan Kesejahteraan Masjid, Jalan Burangrang No: 17-19 Bandung, ratusan mubalighoh berkumpul hadiri acara Liqa Muharram Muballighoh 1438 H yang digelar oleh Muslimah DPD I HTI Jawa Barat. Acara yang bertemakan Peran Strategis Muballighoh dalam Menyelamatkan Generasi dan Keluarga ini dihadiri oleh Muballighoh dari berbagai daerah yaitu Sukabumi, Cianjur, Sumedang, Kabupaten Bandung, Cimahi dan Bandung. Acara ini merupakan salah satu upaya untuk mensinergiskan dan menguatkan langkah muballighoh dalam menyelamatkan keluarga dan generasi yang tengah berada dalam ancaman dan permasalahan besar. Mengingat muballighoh sebagai bagian dari tokoh umat memiliki peran strategis di tengah masyarakat. 

Ustadzah Ir. Rina Komara (Koordinator Lajnah Khusus Ustadzah dan Mubalighoh Muslimah DPD I HTI Jawa Barat) meyampaikan bahwa institusi keluarga saat ini begitu rapuh, keluarga muslim berada dalam ancaman, bahkan Indonesia darurat perceraian. Setiap jam terjadi 40 perceraian dan yang menyedihkannya angka gugat cerai dominan dibanding dengan cerai talak yaitu 70 banding 30. Bahkan di Kota Cimahi perceraian kian meningkat setiap tahunnya 1000 kasus. Ungkap Ustadzah Rina saat menyampaikan materinya yang bertema Strategi Barat Menghancurkan Generasi dan keluarga di Negeri-negeri Muslim. Kondisi ini makin memprihatinkan saat kita lihat generasi pun dilanda masalah yang besar, darurat narkoba, seks bebas ataupun aborsi. Semua itu terjadi karena lemahnya pemahaman aqidah umat dan kurangnya pemahaman aturan Islam termasuk konsep pernikahan dan keluarga. Bukan hanya itu, tapi Muballighoh harus menyadarai bahwa di tengah kita ada upaya sistemik untuk menghancurkan keluarga dan generasi muslim. Serangan budaya sekuler yang kian massif serta penerapan sistem hidup yang bertentangan dengan Islam menjadikan kehidupan kita saat ini kehidupan yang sempit, penuh masalah dan kerusakan. Musuh-musuh Islam, dalam hal ini Barat terus melancarkan ghazw al fikri dan ghazw ats-tsaqafi (perang pemikiran dan perang budaya). Ini sebagai bentuk penjajahan modern Barat atas dunia Islam, tidak lagi menjajah secara fisik tapi berupaya untuk mendominasi politik, ekonomi, sosial, budaya, militer dan terus menancapkan serta menyebarluaskan ideologi Kapitalisme yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Penghancuran institusi keluarga ini dilakukan dengan menancapkan ide-ide gender seperti berupaya untuk melenyapkan ketundukan terhadap syariah, memperdaya perempuan melalui pemberdayaaan ekonomi serta penghancuran peran keibuan.

Muballighoh jelas memiliki peran strategis untuk selamatkan keluarga muslim dari serangan Barat yang bertubi-tubi. Muballighoh harus menjadi garda terdepan dalam melaksanakan amar maruf nahyi munkar agar kebaikan terwujud di tengah-tengah masyarakat. Ulama termasuk muballighoh merupakan pewaris Nabi yang menjaga umat dengan ilmunya, mendidik umat agar memiliki kepribadian Islam yang kuat. Termasuk jalankan perannya untuk mengontrol penguasa ketika menerapkan kebijakan yang salah dan bertentangan dengan Islam. Tentu peran ini bisa dijalankan saat muballighoh mampu memahami konstelasi politik global dan regional, serta mampu mengungkap makar orang kafir dalam memerangi Islam dan kaum muslim. Muslimah HTI mengajak para muballighoh yang hadir agar mendakwahkan Islam ideologis yang tidak hanya sekedar nasihat atau taushiyah. Terus membangun kesadaran umat agar menjadikan syariat Islam sebagai pijakan dan solusi kehidupan kita semua tentu dengan penegakkan Khilafah Islamiyyah.

6/29/2016

jadikan hidup makin hidup

Jadikan hidup makin hidup
mulia dengan islam
Sahabat, pernahkan kita bertafakur tentang siapa dibalik kemaha hebatan alam semesta? Tentang angin yang bertiup secara teratur, dari udara yang bertekanan tinggi ke tekanan rendah. Tentang gunung bagaimana ia berdiri dengan kokoh, tentang langit bagaimana ia didirikan tanpa penyangga. Tentang tubuh manusia yang tertata secara sempurna, bagaimana posisi lubang hidung yang menghadap ke bawah, bagaimana sistem paru-paru berfungsi secara automatik 24 jam tanpa henti kecuali mati, tentang signal di kawasan batang otak yang akan terus menerus bekerja mengendalikan kadar CO2 dalam darah. Semuanya tertata dengan rapi. Luar biasa.
Jika kita berfikir tentang hal itu, maka siapakah yang menciptakannya? Apakah tercipta secara sendiri? Atau apakah tercipta bersamaan dengan yang menciptakannya? Ataukah diciptakan oleh dzat yang Azali dan Wajibul Wujud? Ternyata jawabannya adalah alam semesta, manusia dan kehidupan ada yang menciptakannya dan dzat yang menciptakannya bersifat Azali serta Wajibul Wujud, ialah Allah Swt. Lantas drimana kita tahu bahwa Allah Swt dzat yang menciptakan alam semseta, manusia dan kehidupan ini? Jawabnnya adalah dari firman-Nya berupa Al Qur’an, karena Al Qur’an bersifat kekal tak akan berubah menyesuaikan dengan zaman, karena Al Qur’an bukanlah ciptaan makhluk-Nya. Sebagaimana yang tertera dalam terjemah Qur’an surat Qaf ayat 38, Allah Swt berfirman “Sungguh Aku telah menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada diantara keduanya….” Lalu pertanyaan selanjutnya, untuk apa Allah menciptakan manusia? Maka sesuai dengan surat Ad-dzariat ayat 56, “Tak semata-mata Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya”. Selain itu dalam Surat Al baqoroh ayat 30, Allah hendak menciptakan manusia ke muka bumi, adalah untuk memakmurkan muka bumi dengan cara menggurusnya. Melalui Manual Guide yang telah Allah karuniakan, menunjukkan bukti betapa sayangnya Allah Swt kepada hamba-Nya, agar ia selamat di dunia dan selamat bertemu kembali dengan-Nya. Al Qur’an adalah sumber kemulian, siapa yang mengambil kemulian selain dari Al Qur’an, maka kehinaanlah yang akan didapat.
Kemnudian, akan kemanakah manusia setelah ia meninggal? Ia kan bertemu dengan hari pembalasan, dimana semua amal ibadahnya di dunia diperhitungkan. Sekecil apapun amal solih yang dilakukan manusia di alam dunia, ia akan mendapatkan balasannya, begitpun dengan kemaksiatan. Maka apa hubungannya antara dari mana kita berasal dengan untuk apa kita hidup? Disanalah terdapat hubungan penciptaan dan hubungan perintah dan larangan. Allah Swt yang menciptakan kita mengkaruniakan Al Qur’an sebagai petunjuk yang berisi perintah dan larangan. Kemudian apa hubungannya antara untuk apa kita hidup dengan kemana setelah kita mati? Disanalah hubungan pembangkitan dan hubungan penghisaban amal. Apakah di dunia kita lebih melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya? Jika ia insya Allah dengan izin-Nya kita berhak untuk bertemu dengan-Nya.
Sahabat, yuk jadikan hidup kita makin hidup dengan sekuat tenaga menjalankan segala aktivitas dalam kehidupan kita di dunia ini sesuai dengan aturan-aturan-Nya yang bersumber dari Al Qur’an. Agar di dunia ini dengan izin Allah, Ia menuntun kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan di akhirta kelak bertemu dengan-Nya. Amin.

Wallahu’alam

3/29/2016

semua ada ilmunya



selamat pagi desa babakan peteuy!”
kebaikan yang dilakukan haruslah dengan ilmu, sesuai dengan apa yang dituntunkan rasul dan niat yang ikhlas, agar bernilai pahala. #KKNUPI” adalah kalimat lengkap yang saya tulis kemarin sore di display BBM, sebagai bahan kontemplasi menjelang berbuka. sebagai contoh, ada percakapan menarik yang terjadi di media sosial. kurang lebih seperti ini percakapannya. “cita-cita saya selepas wisuda mau ngelanjutin kuliah lewat LPDP!” sahut orang pertama, “wih, mantap. udah dapet berapa skor toeflnya?” Tanya orang kedua. “apa toefl teh?” jawab orang pertama. waduh gak bener ini cita-citanya mulia, tapi sayang ilmu untuk mewujudkannya gak ada. masih ada contoh yang sejenis dalam kehidupan kita sehari-hari, missal banyak harakah dakwah yang berjuang untuk menegakkan islam di penjuru dunia dalam satu institusi yang disebut khilafah, namun tak dibarengi dengan ilmu. apa yang terjadi? cita-cita tersebut tak kunjung terealisasi, bahkan makin menjauhkan dari cita-cita mulia tersebut. selain itu karena metode dakwah yang tak sesuainya dengan apa yang nabi SAW sampaikan. dimana rasul berdakwah untuk mendirikan khilaf melalui tiga tahapan, pertama adalah tahapan kaderisasi dan pembinaan kedua tahap sosialisasi dan berinteraksi dengan umat dan terakhir tahapan penerapan peraturan islam secara sempurna melalui mekanisme pembaiatan.

Apapun problemnya islam solusinya


Cicalengka, 6/7/2015
Tinggal empat hari lagi berada di sini, memanfaatkan waktu di massa periode pertama KKN Tematik UPI. sore kemarin menjelang berbuka saya berkenalan dengan salah seorang mahasiswa Universitas Islam di bandung yang sedang mengantarkan temannya melakukan penelitian terhadap para tuna netra yang sedang mengikuti perlombaan tahfidz qur’an juz 30 bagi penyandang tuna netra, masya Allah luar biasa. saya tak ingat siapa nama mahasiswa tersebut, namun yang saya ingat adalah jurusan yang ia tekuni adalah jurusan hukum perdata islam. hmm saat mendengar informasi tersebut timbul rasa tertarik saya untuk banyak berdiskusi dengan beliau. perbincang saya mulai dengan melontarkan pertanyaan seputar BMT (Baitul Mal wa Tamwir), lalu mengenai hukum waris hingga pergerakan politik mahasiswa. namun yang paling seru adalah saat membahas mengenai mekaisme penerapan hukum islam jika diterapkan secara kaffah di Indonesia. beliau menyatakan bahwa hukum yang diterapkan di Indonesia adalah hukum warisan belanda dan jika indonesia menerapakan hukum islam secara sempurna di seluruh lini, mulai dari sistem politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan hingga hubungan luar negeri pasti akan sejahtera. fikir saya, setuju dengan opini beliau dan diperlukan banyak mahasiswa yang memiliki pemikiran tersebut hingga akhirnya pergerakan mahasiswa memiliki satu visi untuk memperjuangkan tegaknya ideologi islam agar hukum islam tegak di Indonesia.

Bak penjual dengan pembeli.


Cicalengka, 5/7/2015
sore ini saya akan bercerita beberapa hal yang kemarin belum sempat saya tulis. pagi yang cerah kala itu menyapa kantor desa, saya dan kawan-kawan kelompok kkn telah membuat janji untuk bertemu dengan pak kepala desa. kepala desa belum juga datang, setelah 15 menit larut dari perjanjian, namun bukan hal tersebut yang akan dibahas lebih mendalam, namun wajah saya tersorot pada fenomena yang memang lazim saya temui. “assalamu’alaikum, punten pak, abdi bade ngadamel KTP”1 imbuh salah seorang warga, “mangga, bla, bla, bla….”2 panjang lebar percakapan antara aparat desa dengan salah seorang warga. diakhir pembicaraan sang warga bergumam, “punten pak, sabarahaeun?”3 “ah, mun aya syukur, teu oge teu nanon”4 saut sang aparat desa. beginilah wajah administrasi negeri ini, yaa Indonesia! dimana hubungan antara pemimpin dengan masyarakat bagaikan hubungan antara penjual dengan pembeli, bagaikan penyewa dengan pihak yang memberikan sewa, bukan ibarat pelindung dan pelayan, sang pemimpin melindungi dan melayani masyarakatnya. mari kita lihat figur khalifah umar bin abdul azis, saat pertama kali dirinya dibaiat oleh umat untuk menjadi khalifah, ucapan pertama yang beliau lontarkan adalah “innaillahi wa innalillahi roji’un”. beliau sangat berhati-hati dengan amanah tersebut, karena beliau meyakini bahwa, jabatan yang umat serahkan adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban di hari perhitungan. di hari pertama setelah beliau dilantik, bala tentara yang jumlahnya puluhan yang oleh khilafah sebelumnya disiapkan untuk menjaga istana negara, beliau instruksikan untuk menyebar ke seluruh wilayah kekhilafahan, dengan maksud agar tak ada sekat antara pemimpin dan masyarakat, cukup satu tentara yang beliau tempatkan di dalam istana. tak hanya itu, gubernur-gubernur korup paska peninggalan kekhilafahan sebelumnya beliau copot kekuasaannnya dan beliau ganti dengan gubernur yang amanah dan mampu melindungi dan melayani rakyat. lalu bagaimana lagi upaya yang dilakukan oleh khalifah umar bin abdul azis agar umat terlindungi dan terlayani oleh negara? pernikahan bagi masyarakat yang tak mampu, beliau gratiskan dan utang rakyat yang tak mampu membayarnya beliau bayarkan. bahkan kas BMT Negara yang semestinya dibagikan kepada masyarakat yang tak mampu sudah tak sanggup lagi dibagikan, karena tak ada lagi masyarakatnya yang di bawah garis kemiskinan. masya Allah.
kegiatan penerimaan oleh kepala desa telah selesai… sepulang dari kantor desa, kami disambut oleh anak-anak yang sedang bermain di depan posko, permainan tradisional unik yang baru pertama kali saya lihat, namanya bermain biji karet. rulenya, adalah sekumpulan biji karet yang digenggam di tangan lalu disebar ke atas lantai, dan setelah bersebaran bebas, satu demi satu biji harus saling ditubrukkan menggunakan jari, jika biji yang kita hempaskan oleh jari mengenai lebih dari satu biji yang lain, maka permainan harus dipindahkan ke pemain yang lain, siapa yang mendapatkan biji paling banyak, maka ia berhak mendapatkan predikat juara :) siang beranjak sore, sesaat menjelang adzan maghrib, anak-anak yang tadi bermain dengan kami (saya dan kawan-kawan KKN) masih bertahan di posko dan berniat berbuka puasa bersama dengan kami. “kalau aku, kakak yang paling diinget waktu KKN tahun kemarin, kak indra” sahut seoarang anak perempuan kelas lima SD. ”soalnya kak indra tuh ganteng, hitam manis” lanjut dia menambahkan. ehm, ada yang menarik dari percakapan mereka, percakpan tersebut hemat saya adalah representasi realita generasi muda saat ini, dimana bentuk fisik adalah penilaian pertama yang terngiang dari representasi seseorang, bukan lagi karakter, bukan lagi dikenal karena ia rajin ke masjid bukan lagi dikenal karena jilbabnya yang syar’i, bukan lagi dikenal karena rajinnya ia membaca qur’an. rindu rasanya mendengar ucapan “kalau aku kakak yang paling di sayang adalah kak fitri, karena kak fitri jilbabnya lebar dan suka ngajak aku ke masjid”. seneng dengernya kalau seoarang anak perempuan mengidolakan kakak perempuan, bukan kakak laki-laki.
wallahu'alam
1 “Assalamu’alaikum, maaf pak saya mau membuat KTP”
2 “silahkan, bla… bla… bla…”
3 “maaf pak, saya harus bayar berapa?”
4 “ah, kalau ada syukur, kalau ndak ada ndak apa-apa”

Negeri ini butuh kamu! Mahaiswa




Berawal dari masalah, melihat fenomena negeri yang sedang bersedih. Kesadaran untuk berbuat adalah keniscayaan bagi setiap muslim.
pak, negeri kita adalah negeri dengan mayoritas muslim terbanyak, ko’ umat muslim malah tertindas?” tanya seorang anak pada ayahnya. “ade, emang bener kalo negeri ini berpenduduk mayoritas muslim, tapi sebagian besar umat muslim sudah tak cinta apalagi menerapkannya dalam segala aspek kehidupan” jawab sang ayah.
Sudah 70 tahun bangsa ini merdeka dari penjajahan fisik, mulai portugis, jepang hingga belanda bercokol di bumi pertiwi merampas sumber daya negeri, para ulama, santri, hingga petani meneriakan cita-cita yang sama, MERDEKA! Sudah 70 tahun negeri ini bergonta-ganti sistem pemerintahan, namun dampaknya tak begitu berarti. Sudah 70 tahun pemerintahan ini dipimpin oleh penguasa, mulai dari kalangan kyai, kalangan ilmuwan, kalangan militer, kalangan pengusaha hingga kalangan yang oleh banyak orang disebut wong cilik, namun hanya pergantian rezim yang meninggalkan segudang permasalahan.
Negeri ini sedang bersedih, anak-anak kehilangan kasih sayang lembut sang ibu, karena sang ibu asyik bekerja menambah penghasilan sang ayah, para remaja tak betah tinggal di rumah, dunia luar begitu menggoda bagi mereka. Yah! Sangat menggoda. Mahasiswa, terbelenggu dengan massa kuliah yang lebih singkat dengan beban SKS yang lebih banyak. Para ibu cemas bagaimana mengurus putra-pitrinya agar menjadi putra-putri yang soleh dan solehan di zaman mencekang saat ini.
Negeri ini sedang sakit, pereknomian lesu bahkan rupiah menembus 13.700 per dollarnya. Kebebasan beragama pun tergoyahkan dengan insiden tolikara yang terjadi saat moment idul fitri. Pengangguran semakin tinggi karena pemerintah lebih doyan import tenaga kerja dari cina. Apalagi kesehatan, BPJS bermasalah hingga terlontar sebuah pernyataan bahwa orang miskin dilarang sakit.
Negeri ini butuh kesadaran dari kamu, ya! Kamu mahasiswa, karena mahasiswa bukan sekedar predikat dan bukan juga sekedar prestise, tapi ia adalah sebuah tanggung jawab yang mesti ditunaikan. Penyambung lidah masyarakat terhadap penguasa serta penggerak untuk mencerdaskan masyarakat. Bukan sekedar menyelenggarakan event perlombaan namun mesti menyuarakan kebenaran, bukan sekedar gaya-gayaan namun perlu kecerdasan, dan bukan sekedar perjuangan, namun perjuangan yang dialndaskan pada keimanan.
Ya! Sekali lagi, negeri ini butuh kamu, untuk bergerak bersama mencerdaskan masyarakat indonesia tentang indahnya islam, agar islam membumi di bumi pertiwi. Agar islam menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan negeri, karena islam bukan sekedar agama yang mengurus orang yang sudah mati, tapi ia adalah agama yang mengurus orang yang masih hidup dalam segala aspek kehidupan.
Cicalengka, 19 Agustus 2015 06:47

Mempersiapkan Remaja untuk Menjadi Pemimpin Tangguh




Remaja adalah aset yang akan meneruskan cita-cita suatu bangsa, Negara bahkan dunia1. Kegemilangan suatu Negara di masa depan tergantung pada seberapa baik ia mempersiapkan para remaja untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Islam memandang, bahwa mempersiapkan remaja agar memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan adalah sangat penting.
Sejarah kekhilafahan Islam Utsmaniyah telah memberikan teladan agung, saat sultan murad II mempersiapkan putranya Sultan Muhammad al-fatih dalam rangka melanjutkan estafet kepemimpinan pemerintahan kekhilafahan Islam Utsmaniyah. Sultan Murad II mendidik al-fatih dengan sungguh-sungguh. Sejak usia kanak-kanak, al-fatih telah diajarkan bagaimana cara menunggang kuda, memanah, dan menggunakan pedang. Dari segi ruhiyah al-fatih telah ditarbiyah secara intensif oleh al-Syeikh Muhammad bin Ismail al-Kurani atas izin ayahnya. Beliau mengajarkan al-fatih ilmu-ilmu al-Quran, al-Hadits, fiqih, linguistik (bahasa arab, Persia dan turki), dan juga ilmu kemahiran yang lain. Setelah mendapatkan berbagai bekal untuk melanjutkan estafet kepemimpinan, selanjutnya pada usia ke 22, al-fatih diangkat menjadi khalifah kekhilafahan Islam Utsmaniyah dan pada usia ke 26 beliau berhasil membebaskan kota konstantinopel dan menyebarluaskan dakwah islam2.
Berbanding terbalik dengan sejarah kekhilafahan Islam Utsmaniyah, saat ini Negara lalai dalam membimbing remaja agar memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Terjadi banyak penyimpangan yang dilakukan oleh para remaja, mulai dari penyalahgunaan narkoba, akses media porno, seks bebas, aborsi, prostitusi, tawuran hingga geng motor3. Sebagimana data yang dilansir oleh detikHealth, rabu 6/6/2012 menyatakan bahwa 50-60 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan remaja yakni kalangan pelajar dan mahasiswa. Total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI sebanyak 3,8 sampai 4.2 juta. Pakar psikologi UI Zoy Amirin, mengutip sexual behavior survey 2011, menunjukan bahwa 64 persen anak muda di kota-kota besar Indonesia 'belajar' seks melalui film porno atau DVD bajakan. Akibatnya, 39 persen responden ABG usia 15-19 tahun sudah pernah berhubungan seksual, sisanya 61 persen berusia 20-25 tahun. Bagaimana mungkin, estafet kepemimpinan diserahkan kepada mereka, para remaja yang memiliki akhlak tercela?
Keluarga hingga Negara bertanggung jawab atas kerusakan akhlak remaja4. Keluarga adalah sekolah pertama bagi tiap anak. Orang tua adalah benteng pertama melindungi remaja dari kerusakan akhlak. Negara adalah institusi politik tertinggi yang mampu menetapkan aturan untuk menyelamatkan akhlak remaja. Namun, sebagaimana fakta yang disampaikan di atas, keluarga dan Negara belum mampu menyelesaikan berbagai problem penyimpangan yang dilakukan oleh remaja. Perlu adanya pembinaan intensif dan inovatif untuk menuntun remaja agar memiliki akhlak terpuji sehingga mereka mampu memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Pembinaan yang dikonsep secara kreatif, sesuai dengan karakteristik remaja yang penuh dengan keceriaan dan rasa ingin tahu yang tinggi.
Keberadaan aktivis dakwah kampus saat ini, memiliki peran penting untuk membina para remaja agar sesuai dengan tuntunan Islam. Remaja perlu dibina sejak ia masih bersekolah di bangku SLTP, usia pelajar SLTP adalah usia dimana mereka beranjak dari masa kanak-kanak menuju masa awal remaja, sehingga perlu pendampingan secara intensif agar mereka mampu beradaptasi dengan status barunya sebagai remaja.
Program pembinaan remaja, harus dikemas semenarik mungkin. Sehingga remaja merasa nyaman dengan program yang meraka ikuti. Adapun program pembinaan remaja yang dapat dijalankan adalah kajian islam remaja, hiking, halaqah hingga menonton film inspiratif. Melalui berbagai pembinaan tersebut diharapkan akan tumbuh kesadaran para remaja untuk menjalankan aktivitasnya sesuai dengan syariat Islam. Sehingga diharapkan akan muncul sosok sultan Muhammad al-fatih berikutnya yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dan berjuang untuk melanjutkan kehidupan Islam.
1 http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/04/keluarga-hingga-negara-bertanggung-jawab-atas-kerusakan-moral-remaja/
2 http://halaqah.net/v10/index.php?topic=6434.0
3 http://www.syababindonesia.com/2012/11/kenakalan-remaja-di-negeri-ini-kian.html
4 http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/04/keluarga-hingga-negara-bertanggung-jawab-atas-kerusakan-moral-remaja/