Oleh : Fahmi Amhar
Banyak
orang lupa, perubahan politik terjadi tidak melulu melalui Pemilu. Bahkan bisa
dibilang, semua perubahan politik besar justru terjadi bukan melalui jalan
Pemilu. Lihatlah bagaimana pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru, begitu juga
berakhirnya rezim Orde Baru oleh gerakan reformasi. Semua terjadi bukan melalui
Pemilu. Perubahan besar di Timur Tengah juga terjadi bukan melalui pemilu. Oleh
karena itu, sungguh aneh kalau orang memutlakkan Pemilu sebagai jalan perubahan
untuk mencapai cita-cita politik.
Apalagi
dalam kenyataannya, dalam konteks cita-cita politik Islam, Pemilu tidak pernah
memberikan kesempatan kepada kekuatan politik Islam untuk benar-benar meraih
tujuan politik islaminya. Lihatlah apa yang terjadi di Aljazair, begitu juga di
Palestina, Turki dan yang terakhir di Mesir saat Presiden Muhammad Mursi yang
meraih jabatan itu melalui Pemilu kemudian secara keji dikudeta oleh pihak
militer dengan dukungan negara Barat. Bukan hanya mengkudeta Mursi, militer
Mesir juga (bakal) membubarkan Ikhwanul Muslimin setelah sebelumnya membantai
ribuan pendukung Mursi. Peristiwa ini seolah mengulangi apa yang sebelumnya
terjadi pada FIS di Aljazair dan Erbakan di Turki. Keduanya memenangi Pemilu,
bahkan Erbakan sempat menjabat sebagai Perdana Menteri Turki selama 2 tahun
sebelum akhirnya dihentikan oleh militer. Di Aljazair, hasil Pemilu yang
dimenangi oleh FIS dibatalkan, bahkan kemudian FIS menjadi partai terlarang dan
lebih dari 30 ribu anggotanya, termasuk Ali Belhaj dan Abbas Madani—dua tokoh
utama FIS—dipenjara.
Artinya,
Pemilu dalam sistem demokrasi hanya memberikan jalan bagi kekuatan politik
Islam untuk meraih tujuan politiknya, termasuk dalam melahirkan peraturan
perundangan dan kebijakan publik, sepanjang hal itu tidak membahayakan
kepentingan Barat dan keberlangsungan sistem sekularisme. Sekali muncul
kekuatan politik Islam yang berhasil meraih kekuasaan, yang dengan kekuasaan
itu bakal menegakkan Islam yang sebenarnya, seperti FIS yang memang telah
menyiapkan konstitusi baru bagi Aljazair yang sepenuhnya berdasar Islam, atau
dikhawatirkan condong pada Islam seperti Erbakan di Turki atau Mursi di Mesir,
negara Barat tak segan akan menghentikan kekuatan politik itu dengan segala
cara (at all cost). Karena itu, bagaimana kita masih saja terus percaya pada
jalan ini, dan menggantungkan masa depan cita-cita politik kita padanya?

No comments:
Post a Comment