![]() |
| Dokumen pribadi |
oleh: Irfan Wahyudin (Mahasiswa FPEB UPI)
Indonesia akan merasakan usia kemerdekaan yang ke 100 tahun tepat
pada tahun 2045. Pada tahun tersebut Indonesia diprediksi akan mengalami masa
kejayaan, bahkan disebut dengan “Indonesia Emas 2045”. Memang tidak dapat
dipungkiri peluang tersebut, sebagaimana pendapat Konadi (18:2011) menyatakan
bahwa:
Transisi
demografi pada beberapa dekade terkahir membuka peluang bagi Indonesia untuk
menikmati bonus demografi, sekitar tahun 2020-2039, saat itu penduduk usia
produktif berjumlah dua kali lipat dari penduduk non-produktif. Peluang ini
harus dimanfaatkan sebaik-baiknya karena hanya akan terjadi satu kali dan itu
dapat terjadi apabila penduduk usia produktif benar-benar bisa berkarya dan
berkiprah secara produktif. Sehingga dapat dijadikan sebagai modal pembangunan
bangsa yang sehat dan bermartabat.
Ada beberapa point penting yang harus digaris bawahi
berdasarkan pendapat tersebut, yang pertama bahwa bonus demografi akan
menjadikan penduduk usia produktif berjumlah dua kali lipat dari penduduk
non-produktif kemudian yang kedua peluang ini hanya akan terjadi satu kali. Berdasarkan
klasifikasi yang dibuat oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Usia
produktif berkisar antara usia 15 sampai 64 tahun. Kemudian bila kita cermati,
usia tersebut yakni dimulai saat menginjak usia SMA (Sekolah Menengah Atas)
dimana pada usia tersebut sedang mengalami masa pencarian jati diri dan masa
peralihan dari masa kanak-kanak akhir menuju masa remaja. Ibarat pisau, ia akan
berguna jika dipergunakan untuk memasak dan sebaliknya akan berbahaya jika
digunakan untuk membunuh nyawa yang tak bersalah, usia awal produktif (masa
remaja) akan menjadi asset yang berguna di masa depan jika ia dipersiapkan
dengan sebaik mungkin, begitupun sebaliknya ia akan menjadi masalah jika tak
dipersiapkan dengan seksama.
Jika
kita melihat data Komisi Nasional Perlindungan Anak tahun 2008, menyatakan
bahwa,
Dari 4.726 responden siswa SMP dan
SMA di 17 kota besar diperoleh hasil, 97 persen remaja pernah menonton film
porno serta 93,7 persen pernah melakukan ciuman, meraba kemaluan, ataupun
melakukan seks oral. Sebanyak 62,7 persen remaja SMP tidak perawan dan 21,2
persen remaja mengaku pernah aborsi. Perilaku seks bebas pada remaja terjadi di
kota dan desa pada tingkat ekonomi kaya dan miskin (www.hidayatullah.com, 2012)
Berdasarkan data-data
tersebut, alangkah kerdilnya harapan “Indonesia
Emas 2045” terwujud. Bagaimana mungkin Indonesia akan menikmati bonus demografi
jika penduduk usia produktif dipenuhi dengan permasalahan-permasalahan.
Selanjutnya adalah kewajiban para pemuda untuk merubah keadaan tersebut, karena
pemuda adalah bagian dari penduduk usia produktif dan disetiap perubahan yang terjadi
di dunia ini, pemuda selalu menjadi garda terdepan dalam setiap pergerakan.
Saat ini kita ketahui pengajian-pengajian islam menjamur subur, tapi sayang
ilmu yang didapat sebagian besar hanya dikonsumsi sendiri, maka melalui artikel
ini penulis menggagas sebuah gerakan One Young One Circle, maksud dari gerakan
ini adalah upaya sadar dan terencana yang dipelopori oleh pemuda atas hasil dari
berbagai ilmu yang didapat selama mereka mengikuti pengajian-pengajian islam,
karena walaupun ilmu yang telah didapat sangat banyak tapi jika tidak diaplikasikan dan diajarkan
hanya akan mengendap dalam akal dan tidak akan bisa merubah keadaan. One Young
One Circle, jika diartikan secara bebas dalam bahasa Indonesia bermaksud satu
pemuda satu lingkaran, ini berarti seorang pemuda berupaya untuk mendapatkan
“satu lingkaran” pembinaan remaja dengan jumlah remaja maksimal lima orang per
lingkaran. Mengenai bagaimana untuk mendapatkan lima remaja tersebut, seorang
pemuda bisa turut aktif dalam kegiatan keagamaan di masjid terdekat, kemudian
menawarkan pembinaan kepada ketua DKM untuk membina para remaja di masjid
tersebut atau bisa juga jika lingkungan tempat tinggal pemuda dekat dengan
sekolah menengah, ia bisa mengajak siswa-siswi sepulang sekolah untuk melakukan
pembinaan. Diharapkan dengan program One Young One Circle, para remaja usia
produktif tersadarkan akan eksistensinya sebagai hamba Allah yang akan dimintai
pertanggungjawaban di akhirat kelak, sehingga semasa di dunia ia akan
menggunakan segenap waktunya demi kepentingan agama, keluarga dan Negara. Insya
Allah “Indonesia Emas 2045” akan segera terwujud!

No comments:
Post a Comment