2/15/2017

Catatan Kemenangan: "Para Pengemban Dakwah Siapkah Kita Berada di Luar Zona Nyaman?"



Kemenangan Ahok yang kafir adalah tantangan dan ujian dakwah yang berat bagi para pengemban dakwah ideologis.

Namun, kemenangan Agus-Sylvi atau Anis-Sandi yang muslim juga adalah tantangan dan ujian yang tak kalah beratnya bagi oara pengemban dakwah ideologis. 

Bila Ahok menang, maka bisa jadi tekanan demi tekanan pada ummat Islam akan semakin menjadi. Hambatan dan himpitan pada ruang gerak aktivis dakwah juga bisa jadi akan semakin luar biasa sebagaimana yang diprediksi. Bagaimanapun ini mang bukanlah ketakutan-ketakutan yang tak beralasan dan tak berdasar. Fakta berkata. Data pun berbicara bagaimana sepak terjnag seorang Ahok demgan berbagai dalih dan pembenarannya berusaha meminimalisir syiar Islam. 
Di luar hal itu. Yang lebih perih dan menakutkan adalah adzab Allah SWT pada ummat yang menyerahkan urusannya pada kaum kafir. Naudzubillahi min dzalik. 

Tapi, terlepas dari hal itu. Saya memprediksikan bahwa Ummat akan lebih mudah dipesatukan pada satu ikatan perasaan yang sama. Meski tetap harus diwaspadai sikap sebagian yang akan memanfaatkan momen ini untuk saling tuding dan menyalahkan. 

Mudah diikat dalam satu ikatan perasaan yang sama tersebab mereka akan merasakan "penderitaan" yang sama untuk aqidahnya. Di sinilah dakwah akan menemukan momentnya. Karena akan semakin terang tabir. Siapa mukmin dan siapa yang munafik.

Jika Ahok yang kafir itu kalah, maka yang menang adalah muslim. Pemimpin muslim yang dalam kampanyenya tak satupun menyebut dengan terang dan jelas akan menerapkan Islam. Itu artinya, mereka masih dalam millah sekulerisme, dan berpayung dalam demokrasi. Di titik ini saya merasa khawatir bahwa ummat akan merasa perjuangannya telah berakhir, berhasil. Karena seruannya adalah tolak Ahok. Apakah salah tolak Ahok padahal ia nyata seorang yang kafir?. Tidak. Bahkan benar. Karena Allah sedemikian keras melarang ummat serahkan segala urusan pada pemimpin kafir. Lalu apa masalahnya?. Pada titik ini, ummat akan "kehilangan" musuh bersama yang selama ini mereka "incar". Mereka sudah dapatkan pemimpin "idaman". Maka, bersiaplah wahai para pengemban dakwah untuk babak baru tantangan dakwah selanjutnya. 


Ya...
Sejatinya dakwah ini akan terus bergulir sampai batas "pecah" bola salju.
Dakwah ini akan terus melaju. Lengkap dengan segala tantangan yang akan dihadapi para pengembannya. 
Itulah kenapa dakwah ini disebut sebagai perjuangan. Karena di dalamnya tersemat berbagai tantangan yang harus siap untuk dihadapi.

Para pengemban dakwah siapkah kita berada di luar zona nyaman?


Yang terakhir adalah pertanyaan untuk diri sendiri

«Jakarta, 15 Februari 2017»
Di tengah gempita pesta demokrasi negriku

No comments:

Post a Comment