3/06/2017

Kabar Gembira! Insya Allah Zakir Naik Akan Hadir di Kota Bekasi



Suatu kebanggaan, Indonesi kedatangan tamu dai kelas dunia, Dr Zakir Abdul Karim Naik atau lebih dikenal dengan nama Dr Zakir Naik.

Beliau lahir pada 18 Oktober 1965. Merupakan seorang pembicara umum muslim dan penulis hal-hal tentang Islam dan perbandingan agama. Secara profesi, ia sebenarnya adalah seorang dokter medis. Memperoleh gelar Bachelor of Medicine and Surgery (MBBS) dari Maharashtra, namun sejak 1991 ia telah menjadi seorang ulama yang terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Ia menyatakan bahwa tujuannya ialah membangkitkan kembali dasar-dasar penting Islam yang kebanyakan remaja muslim tidak menyadarinya atau sedikit memahaminya dalam konteks modernitas.

Direktur An Nahl Institute Jakarta Ustaz Ahmad Buchory Muslim mengatakan, kedatangan Dr Zakir Naik ke Jakarta adalah kunjungan silaturahim dengan ulama, tokoh dan tempat atau kampus yang sudah siap akan mengadakan acara.  Menurut dia, Zakir Naik akan menggelar sejumlah safari dakwah ke sejumlah pesantren dan Universitas Islam di Indonesia.

Humas panitia penyelenggara, Budhi Setiawan, Jumat (03/03), mengatakan Zakir Naik akan memulai safari dakwah pada tanggal 31 Maret sampai 9 April 2017 mendatang di beberapa kota.

Dua tempat safari dakwah Zakir Naik yang telah dikonfirmasi adalah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Darussalam Gontor, Jawa Timur.

“Dua tempat itu sudah konfirmasi. Tanggalnya masih tentatif, tapi dipastikan antara 31 Maret hingga 9 April,” kata Budhi.

Di daerah Jabotabek, safari dakwah Zakir Naik rencananya akan digelar di Kota Bekasi. Telah beredar di media sosial foto Zakir Naik sedang meninjau Stadion Patriot Kota Bekasi. Namun tanggal pastinya masih belum ditentukan.



“Walau tidak butuh izin Kepolisian karena diadakan di lingkungan kampus, tapi kami tetap akan berkoordinasi dengan aparat,” ujar dia.

Belum ditentukan pula apakah safari dakwah Zakir Naik juga akan diadakan di Jakarta atau tidak.

Budhi mengatakan safari dakwah ini terbuka untuk semua agama dan kalangan. Mereka yang hadir juga tidak dikenakan biaya alias gratis.

“Kami memperkirakan minimal 10 ribu orang yang hadir,” tuturnya.

Beliau biasa menyampaikan ceramah dalam bahasa Inggris. Bagi yang tidak paham bahasa Inggris, Zakir Naik dalam safari dakwah nanti akan ditemani seorang penerjemah.

Deklarasi KSHMI (Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia) Sebagai Gerakan Advokasi Ummat Islam



OpiniMuslimId. Jakarta. Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHMI) secara resmi dideklarasikan pada Ahad (05/03). Menurut penggagas KSHMI, Chandra Purna Irawan mengatakan bahwa komunitas ini didirikan karena melihat ada indikasi pergeseran dalam tatanan hukum Indonesia.

“Ini didirikan karena, pertama adanya indikasi pergeseran dari rechstaat ke machstaat. Artinya dari negara hukum ke negara kekuasaan,” kata Chandra di Hotel Best Western, Jakarta Timur.

Dia mencontohkan kasus Ahok yang seharusnya secara hukum sudah dinonaktifkan dari gubernur. Dengan kembalinya gubernur DKI Jakarta itu ke jabatannya, telah terjadi pelanggaran pasal 83 UU Pemerintahan Daerah. Apalagi, kata dia, sudah terdakwa dan sudah mendapatkan nomor registrasi di pengadilan.

“Maka secara hukum seharusnya sudah dinonaktifkan. Tetapi karena dari pihak pemerintahan nampak berpihak, maka sampai sekarang Ahok masih berjalan sebagai gubernur,” jelasnya.

Ia juga menilai bahwa indikasi pergeseran dari negara hukum ke negara kekuasaan terlihat dari terjadinya kriminalisasi ulama. “Bisa dilihat kasus dana sosial itu  kemudian di tetapkan sebagai tersangka ketuanya. Ini sangat nampak ada upaya diduga kriminalisasi,” tuturnya.

Atas dasar itu, Chandra menambahkan, KSHMI kemudian dideklarasikan. Tujuan utama komunitas itu adalah melakukan advokasi terhadap ummat Islam yang dikriminalisasi.

“Atas kondisi inilah, kemudian sepertinya penting melakukan inisiasi gerakan advokasi nasional dalam rangka bela Islam, bela ulama dan bela aktifis Islam,” tandasnya.

Sumber : kiblat.net

3/05/2017

Setelah Terbangun dari Koma Panjang 17 Bulan Akhirnya Pendeta Katolik dari Pulau Jawa Memililih Masuk Islam



Seorang Pendeta Katolik dari Pulau Jawa, Indonesia yang telah terbangun dari koma panjang 17 bulan akhirnya memililih masuk Islam  setelah mengalami kejadian bahwa Tuhan berbicara kepadanya dan menunjukkan “keindahan Surga”.

Pendeta berusia 87 tahun bernama Eduardo Vincenzo Maria Gomez dari Spanyol telah tinggal dan menjadi misionaris di Pulau Jawa selama lebih dari 43 tahun bahkan fasih berbahasa Jawa dan berbagai dialek dari kelompok etnis yang berbeda pulau. Ia cukup dikenal dan dihormati di semua kelompok keagamaan di daerah tersebut.

Namun laki-laki ini telah mengalami serangan jantung saat membantu relawan lokal untuk memperbaiki atap gerejanya dan jatuh luar biasa dari ketinggian dua tingkat.

Ia telah berhasil bertahan dan keluar dari koma, namun menjadi sosok laki-laki yang telah berubah.

“Saya tidak mengerti apa-apa tentang Islam. Saya tidak pernah baca Al-Qur’an tapi Tuhan berbicara kepada saya dan meminta saya untuk mengikutinya ke Surga dan Cahaya Kudus bersinar melalui seluruh diri saya dan saya melihat gerbang emas Surga muncul di hadapan saya dan Tuhan mengatakan kepada saya tentang siapa diri-Nya dan diri-Nya adalah Allah,” ujarnya dikutip  worldnewsdailyreport.com

Dokter yang merawatnya di Metropolitan Medical Centre Jakarta Selatan mengatakan,  “Ini tulang terkuat orang berusia 80 tahun yang pernah saya lihat. Tulangnya seharusnya hancur berkeping-keping,” renung Jim Won Mei, yang telah praktek di bidang kesehatan selama lebih dari dua puluh tahun.

Perpindahannya menuju Islam membuat sebagian pengikut gerejanya terkejut, tapi cukup menarik, sudah setengah pengikut Kristen-nya telah menunjukkan minat pula pindah agama Islam.

“Jika Allah adalah Allah yang benar, saya tidak ingin disesatkan ke arah yang salah pada hari penghakiman. Kami percaya Bapa Eduardo. Kita semua percaya padanya,” jelas salah satu pengikutnya.

Mantan pendeta yang masih dalam perawatan medis ini telah memerintahkan pembangunan masjid baru dan pengikutnya sudah bekerja keras untuk mengumpulkan dana yang diperlukan untuk tugas tersebut.

“Kami berhutang kepada Bapa Eduardo untuk semua yang telah ia lakukan kepada kita,” komentar salah satu pengikut dari Gereja Katolik lama, yang sekarang dijual.

Sumber : hidayatullah.com

3/04/2017

Ormas Penjaga Gereja Kembali Berulah! Pengajian Khalid Basalamah Dibubarkan



OpiniMuslimId. Sidoarjo. Acara Pengajian dengan tema "Manajemen Rumah Tangga Islam" dengan pembicara Ustadz Khalid Basalamah di masjid Sholahuddin Gedangan Sidoarjo Jawa Timur dibubarkan paksa oleh sekelompok massa dari ormas Banser NU dan GP Ansor, Sabtu (4/3/2017).

Sekelompok massa tersebut meneriakkan yel-yel dipintu gerbang masjid seraya melontarkan kata-kata provokasi dan memaksa acara pengajian diberhentikan.

Massa memaksa masuk ke dalam ruangan masjid dan membubarkan acara pengajian, hingga membuat jamaah menjadi panik dan berhamburan dijalan depan masjid.

Sementara pihak aparat kepolisian nampak kewalahan dalam menghalangi massa dalam jumlah besar yang membuat gaduh dan kericuhan.

Keadaan yang chaos hampir terjadi kontak fisik antara Jamaah Pengajian dengan massa yang meneriakkan kata-kata provokatif.

Ustadz Khalid Basalamah kemudian menenangkan Jamaah Pengajian agar jangan melakukan tindak kekerasan dan terprovokasi.

Untuk menenangkan situasi, Ustadz Khalid Basalamah memilih meninggalkan lokasi Pengajian dengan dikawal oleh anggota kepolisian Sidoarjo.

3/01/2017

Panjangnya 4 Km, Ini Penampakan Iring-iringan Rombongan Raja Salman


OpiniMuslimId.Bogor - Iring-iringan rombongan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud terpantau sepanjang 4 kilometer. Rombongan itu terpantau ketika melintas di jalan tol dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, hingga Istana Kepresidenan Bogor.

"Rangkaiannya sampai 4 km," kata Kapolres Bogor AKBP AM Dicky Pastika Gading dalam keterangannya, Rabu (1/3/2017).


Dicky memantau iring-iringan itu dari atas jembatan Sentul Selatan. Begitu tiba di Istana Bogor, iring-iringan itu disambut hujan.

"Saya pantau dari atas jembatan Sentul Selatan," ucap Dicky.


Sebelumnya, Raja Salman tiba di Bandara Halim Perdanakusuma dan disambut langsung oleh Presiden Jokowi. Setelah itu, Jokowi berangkat lebih dulu ke Istana Bogor. Raja Salman menyusul kemudian dan semobil dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Saat ini Presiden Jokowi tengah mengadakan pertemuan tertutup dengan Raja Salman di Istana Bogor.

Sumber: news.detik.com

2/27/2017

Hari Ini, Kali Pertama Ahok Bertemu Langsung Habib Rizieq di Ruang Sidang!



OpiniMuslimId. Jakarta – Sidang kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara masuk episode ke-12. Sidang akan digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jalan RM Harsono, Jakarta Selatan, Selasa (28/2/2017). 

Ada momen yang menarik dipersidangan kasus dugaan penodaan agama kali ini. Mengingat, salah satu ahli yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) adalah Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab. 

Habib Rizieq dihadirkan sebagai ahli agama Islam. Berdasarkan catatan, ini kali pertama Ahok akan bertatap muka secara langsung dengan pentolan FPI tersebut. 

Ahok selama menjadi wakil gubernur maupun gubernur DKI tak pernah bertemu langsung dengan Habib Rizieq. Selama ini, mereka berdua hanya berbalas kata lewat media massa. Belum ada forum-forum di luar meja hijau yang mempertemukan keduanya. 

Diketahui, Ahok dan Habib Rizieq kerap beradu argumen dan berada di persimpangan jalan. Ahok yang ditanya mengenai kehadiran Habib Rizieq pada sidangnya kali ini menanggapi dengan santai. 

Menurutnya, dirinya akan mempelajari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Habib Rizieq ketika dimintai keterangannya oleh penyidik Bareskrim Polri. 

“Lihat saja besok. Ini mau pulang, baca BAP," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin 27 Februari 2017. 

Habib Rizieq sendiri dipastikan hadir dalam persidangan Ahok hari ini. Tersangka kasus penodaan Pancasila dan pencemaran nama baik Presiden pertama Indonesia Soekarno itu siap memberikan keterangannya sebagai ahli. 

"Habib Rizieq iya hadir, akan hadir (di persidangan Ahok)," ujar Kapitra Ampera, kuasa hukum Habib Rizieq saat dikonfirmasi Okezone, Senin 27 Februari 2017 malam. 

Selain Habib Rizieq, saksi lainnya yang akan dihadirkan pada persidangan kali ini yaitu Dr H Abdul Chair Ramadhan, SH, MH, ahli Hukum Pidana/Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI.

Sumber: Okezone

Tidal Men-salatkan Jenazah Pro-Penista Agama, Bolehkah?



Tanya :
Ustadz, ada pertanyaan. Orang muslim pendukung penista agama kalau mati tidak disholatkan, bolehkah itu? (Koh Martin, Sleman)

Jawab :
Pendukung penista agama tersebut pada dasarnya masih muslim, bukan menjadi kafir (murtad). Hanya saja mereka berdosa dan menjadi orang-orang fasiq (fussaq) dengan perbuatannya mendukung penista agama. Maka dari itu, menyolatkan jenazah mereka hukumnya tetap fadhu kifayah atas kaum muslimin. Hanya saja bagi orang-orang yang menjadi tokoh agama di tengah masyarakat, misalnya seorang Imam (Khalifah) atau para ulama, yang lebih afdhol adalah tidak menyolatkan pendukung penista agama tersebut, untuk memberikan efek jera kepada orang-orang lain yang mengerjakan dosa semisal itu. (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/695; Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 746; M. Nashirudin Al Albani, Ahkamul Jana`iz wa Bida’uha, hlm. 108-109; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 16/37).

Dalil tetap wajibnya menyolatkan jenazah orang-orang fasiq, adalah hadits dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Sholat [jenazah] wajib hukumnya atas setiap-tiap [jenazah] muslim entah dia orang baik atau orang fajir (fasik), meskipun dia melakukan dosa-dosa besar.” (Arab : al sholaah waa’jibatun ‘ala kulli muslim barran kaana aw faajiran wa in ‘amila al kabaa`ir). (HR Al Baihaqi, As Sunan Ash Shughra, no 501).

Dalam hadits lain Nabi SAW bersabda,”Shalatlah kamu di belakang [imam] siapa saja yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dan shalatilah oleh kamu [jenazah] siapa saja yang mengucapkan laa ilaaha illallaah.” (Arab : shallu khalfa man qaala laa ilaaha illallaah wa shallu ‘ala man qaala laa ilaaha illallaah). (HR Ad Daraquthni & Al Thabrani, lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 597, Bab Maa Jaa`a fi Imamah Al Fasiq).

Imam Syaukani menjelaskan hadits tersebut dengan berkata,”Shalat jenazah atas orang fasik telah ditunjukkan oleh hadits shallu ‘ala man qaala laa ilaaha illallaah (shalatilah oleh kamu [jenazah] siapa saja yang mengucapkan laa ilaaha illallaah)...” (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 746).

Inilah dalil yang menunjukkan bahwa menyolatkan jenazah pendukung penista agama hukumnya tetap fardhu kifayah. Adapun dalil bahwa pemimpin atau tokoh umat Islam sebaiknya tidak menyolatkan jenazah pendukung penista agama, antara lain hadits dari Abu ‘Amrah dari Zaid bin Khalid Al Juhni RA, bahwa seorang laki-laki dari kalangan shahabat Nabi SAW telah terbunuh pada Perang Khaibar. Orang-orang memberitahukan berita laki-laki kepada Rasulullah SAW.Lalu Rasulullah SAW bersabda,”Sholatilah kawanmu!” [Rasulullah SAW tidak mau menyolatkan]. Maka berubahlah wajah orang-orang [terkejut] karena sabda tersebut. Maka ketika Rasulullah SAW mengetahui keadaan mereka [terkejut], bersabdalah Rasulullah SAW ,”Sesungguhnya kawanmu itu telah mengambil harta secara curang pada saat berjihad di jalan Allah.” Lalu kamipun memeriksa barang milik laki-laki itu dan kami dapati kharaz (tali untuk merangkai perhiasan seperti permata atau mutiara) milik orang Yahudi yang nilainya tidak sampai dua dirham.” (HR Abu Dawud, no 2712, hadits shahih). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 746; Imam Abu Thayyib Abadi, ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud; 7/379).

Dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa pemimpin atau tokoh umat Islam, yang utama (afdhol) sebaiknya tidak menyolatkan jenazah orang fasiq, untuk memberikan efek jera kepada pelaku kemaksiatan serupa, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Hadits itu juga menunjukkan jenazah orang fasiq tetaplah disholati, sebagaimana ditunjukkan oleh perintah Rasulullah SAW kepada para shahabat, ”Sholatilah kawanmu itu!” (shalluu ‘alaa shaahibikum). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 746).

Wallahu a’lam.

Berkunjung ke Indonesia, Raja Salman Bawa 1.500 Orang




OpiniMuslimId. Jakarta - Raja Kerajaan Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud dijadwalkan berkunjung ke Indonesia mulai 1 hingga 9 Maret 2017. Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung, pernah mengumumkan bahwa Raja Salman akan membawa sekitar 1.500 orang, 10 menteri, dan 25 pangeran.

Rencananya, Raja Salman dan rombongannya akan singgah di Jakarta dan Bali. Namun, Pramono tidak merilis daftar nama 25 pangeran Saudi yang diboyong Raja Salman ke Indonesia.

Laporan dari laman aawsat.com yang diterbitkan dua hari lalu telah merinci daftar para pangeran yang akan diboyong Raja Salman ke Indonesia, Malaysia, Brunei, Jepang, China, Yordania dan Maladewa.

Wakil Perdana Menteri Kedua dan Menteri Pertahanan yang juga putra dari Raja Salman, Pangeran Mohammed bin Salman adalah salah satu pangeran yang ikut serta berkunjung ke Indonesia.

“Sebuah delegasi tingkat tinggi mendampingi Raja, termasuk Pangeran Khalid bin Fahd bin Mohammed; Pangeran Mansour bin Saud; Pangeran Mohammed bin Fahd; Pangeran Talal bin Saud; Pangeran Khalid bin Bandar (Penasihat Penjaga Dua Masjid); Pangeran Sattam bin Saud; Pangeran Faisal bin Khalid bin Sultan (Konsultan Istana); Pangeran Mansour bin Muqren (Penasihat Penjaga Dua Masjid Suci); Pangeran Mohammed bin Abdurrahman (Konsultan Istana); Pangeran Ahmed bin Fahd bin Salman; Pangeran Abdulrahman bin Badr,” tulis situs berbahasa Inggris itu yang dikutip SINDOnews, Selasa (28/2/2017).

Selain itu, tiga pangeran yang juga putra Raja Salman yakni Pangeran Saud bin Salman; Pangeran Naif bin Salman dan Pangeran Rakan bin Salman, disebut dalam laporan tersebut ikut diajak Raja Saudi.

Sedangkan para menteri yang ikut dalam delegasi antara lain, Menteri Urusan Islam (Sheikh Saleh Al-Sheikh), Menteri Negara dan Anggota Kabinet (Ibrahim al-Assaf), Menteri Kebudayaan dan Informasi (Adel bin Zaid al-Toraifi), Menteri Tenaga Kerja dan Pembangunan Sosial (Ali al-Ghifaidh), Menteri Negara Urusan Luar Negeri (Nazar bin Obaid Madani) dan pejabat protokol senior lainnya.

Sumber: sindonews.com

Beneran Cinta Rasulullah? Sudah Kenal Bendera Rasulullah? lihat Videonya




“Panji Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol.” (HR Tirmizi). Rayah dan liwa’ sama-sama bertuliskan La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah. Pada rayah (bendera hitam) ditulis dengan warna putih, sebaliknya pada liwa’ (bendera putih) ditulis dengan warna hitam. 

Rayah dan liwa’ juga mempunyai fungsi yang berbeda. Rayah merupakan panji yang dipakai pemimpin atau panglima perang. Rayah menjadi penanda orang yang memakainya merupakan pimpinan dan pusat komando yang menggerakkan seluruh pasukan. Jadi, hanya para komandan (sekuadron, detasemen, dan satuan-satuan pasukan lain) yang memakai rayah. 

Rayah diserahkan langsung oleh khalifah kepada panglima perang serta komandan-komandannya. Selanjutnya, rayah dibawa selama berperang di medan peperangan. Karena itulah, rayah disebut juga Ummu al-Harb (Induk Perang). Mengenai hal ini, berdalil dari hadis dari Ibnu Abbas mengatakan, Rasulullah ketika menjadi panglima di Perang Khandak pernah bersabda, “Aku benar-benar akan memberikan panji (rayah) ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah kemudian memberikan rayah tersebut kepada Ali bin Abi Thalib yang saat itu menjadi ketua divisi pasukan Islam. (HR Bukhari). 

Ibnu Asakir dalam bukunya Tarikh ad-Dimasyq jilid IV/225-226 menyebutkan, rayah milik Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mempunyai nama. Dalam riwayat disebutkan, nama rayah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah al-Uqab. Selain itu, fungsi liwa’ sebagai penanda posisi pemimpin pasukan. Pembawa bendera liwa’ akan terus mengikuti posisi pemimpin pasukan berada. Liwa’ dalam perperangan akan diikat dan digulung pada tombak. Riwayat mengenai liwa’, seperti yang diriwayatkan dari Jabir radi allahu anhu yang mengatakan, Rasulullah membawa liwa’ ketika memasuki Kota Makkah saat Fathul Makkah (pembebasan Kota Makkah). (HR Ibnu Majah).

Sumber artikel: Republika


 

Mengejutkan! Wajah Pelaku Teror Identik dengan Fotokopi KTP di Lokasi Bom Meledak



Bandung. OpiniMuslimID. Terduga peledak bom panci di Taman Pandawa diduga warga Kabupaten Bandung, berdasarkan fotokopi KTP yang warga temukan di lokasi.

Pantauan Tribun Jabar, terduga pelaku bernama Yayat Cahdiyat, kelahiran Purwakarta 24 Juni 1975. Yayat sebagai warga RT 3/1 Kampung Cukanggenteng, Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasir Jambu.

Warga menyebut wajah terduga pelaku yang lari ke kantor Kelurahan Arjuna menyerupai foto di fotokopi KTP yang tercecer di lokasi kejadian.



Tak hanya KTP, selembar STNK sepeda motor pun tercecer di lokasi meledaknya bom panci. Nomor polisi pada STNK itu serupa dengan plat nomor sepeda motor Suzuki Smash yang ditinggal terduga pelaku peledak bom panci. Adapun plat nomor sepeda motor itu T 4812 EV dengan nama pemilik Damawi.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari aparat kepoklisian terkait dengan kepastian identitas pelaku.

2/26/2017

[Breaking News] Polisi Mengepung, Muncul Suara Ledakan di Kelurahan Arjuna, Cicendo Bandung



Opinimuslimid. Bandung - Tim Polrestabes Bandung mengepung kantor Kelurahan Arjuna, Cicendo, Bandung. Polisi berusaha melumpuhkan pelaku yang bersenjata api.

Pantauan detikcom, pukul 10.08 WIB, Senin (27/2/2017), muncul api disertai asap hitam pekat dari lantai 2 kantor Kelurahan Arjuna. Sebelum api muncul terdengar suara ledakan, namun tidak diketahui sumbernya.

Pelaku yang belum diketahui jumlahnya ini juga sempat melakukan perlawanan dengan menembak ke arah polisi dari lantai 2. Pengepungan di kantor Kelurahan Arjuna dimulai pukul 09.59 WIB.

Saat polisi berusaha masuk, pelaku melakukan perlawanan. Terdengar letusan tembakan dan ledakan sehingga polisi kembali menjauhi lokasi.

"Pelaku masih di dalam kita sedang berusaha menangkapnya," ujar Kapolrestabes Bandung Kombes Hendro Pandowo.

Menurut informasi, pelaku meledakkan benda diduga bom di lapangan. Kemudian pelaku lari ke kantor Kelurahan Arjuna.

Sumber: detik.com

2/25/2017

Hubungan Banjir dan Dosa (Sebuah Puisi Ideologis)


Apa hubungan antara banjir dan dosa kepemimpinan negeri ini ?
Apakah karena RI-1 bukan dari parpol Islam dan bernama Jokowi?
Ataukah karena DKI-1 Cina non muslim otomatis Ciliwung jadi tinggi?
Ataukah karena mereka membuat pesta rakyat ketika tahun berganti?


Tentu tidak lah ya ...
Andaikata soal parpol, banyak koq kota-kota tanpa bencana ...
Tak cuma soal parpol, bahkan konon mereka tidak beragama ...
Di sana tak cuma tahun barunan, bahkan judi dan zina itu biasa ...
misalnya di beberapa bagian eropa, russia dan cina.


Bila umat Nabi Nuh durhaka dibalas air bah, itu memang iya.
Bila kaum Nabi Sholeh durhaka dibalas gempa, itu memang iya.
Bila bangsa Nabi Luth durhaka dibalas petir menggila, itu memang iya.
Tetapi umat Nabi Muhammad telah diberi tangguh, hingga akhir masa.


Karena itu mari kita belajar cerdas bersama-sama.
Benar ada dosa-dosa kepemimpinan di mana-mana.
Tetapi banyak dosa yang tidak begitu sederhana.
Dosa-dosa yang perlu ulil-albab untuk menjelaskannya.


Dosa itu menyelinap di dalam sistem, birokrasi dan budaya kita.
Budaya mengukur segalanya dari harta dan kuasa,
tanpa peduli halal dan haram sehingga tata ruangpun dilanggarnya,
baik oleh orang-orang kecil maupun oleh mereka yang berkuasa.


Birokrasi menciptakan aparat defensif yang cuma cari muka.
Mereka yang tak kompeten, abai terhadap tugas-tugasnya,
tetap saja naik, karena dekat dengan yang sakti tandatangannya.
Akibatnya ratusan setu dan embung di Bogor lenyap tak bersisa.
Akibatnya kampung kumuh di pinggir sungai dibiarkan menggila.
Akibatnya tanggul, pintu air dan pompa tak terawat jadinya.
Sementara mereka yang cerdas, proaktif tetapi juga kritis suaranya,
diasingkan di sudut-sudut sepi, agar pelan-pelan mati merana.


Sistem demokrasi menyerahkan aturan pada pendapat siapa saja,
yang mendapat mandat cukup dengan visi cukup lima tahun belaka.
Padahal tak ada perubahan mendasar selesai seketika.
Dari usaha yang biasa-biasa saja, tak akan muncul hasil istimewa.
Sedangkan apa saja yang untuk rakyat seharusnya,
diserahkan pada mekanisme pasar, dengan tangan-tangan gaibnya.


Akhirnya hutan-hutanpun digunduli, karena pasar menginginkannya.
Akhirnya rawa-rawapun diurug, karena ada investasi pengusaha.
Akhirnya di mana-mana beton dan aspal, menutupi segalanya,
juga lumpur dan sampah mendangkalkan sungai, menghalangi alirannya.
Akhirnya air sulit mengalir atau meresap, lalu banjir kemana-mana.


Banjir sebenarnya secara teknis amatlah sederhana.
Hujan dan limpahan di suatu tempat, tidak diserap atau dibuangnya.
Jadi amat mudah juga bila persoalannya teknis belaka.
Alihkan hujan ke tengah laut yang tidak berbahaya.
Perbanyak hutan, taman dan sumur resapan di kota-kota.
Perdalam dan perluas seluruh kanal pembawa air ke samudra.
Bila perlu tambah dengan tanggul, pintu air dan pompa-pompa.


Namun jika masalahnya ada di sistem, birokrasi dan budaya,
maka solusi teknis itu tidak akan bertahan lama.
Kita perlu reformasi birokrasi, dan transformasi budaya,
bahkan mungkin kita perlu membongkar sistem yang lama,
untuk kita ganti dengan sistem yang baru sama sekali paradigmanya,
yaitu sistem dengan aqidah Islam dan syariahnya yang sempurna.


Ini bukan sekedar sistem tentang ibadah dan tatacaranya.
Tetapi ini tentang bagaimana manusia memandang alam sekitarnya.
Tentang apakah boleh mengkomersilkan hutan dan rawa-rawa.
Juga tentang bagaimana mengatur pemukiman kaum tak berpunya.


Subhanallah, bila para pemimpin itu menerapkannya,
sistem yang begitu sempurna itu pasti memberikan berkahnya,
sehingga tak perlu ada banjir kronis yang tiap tahun melanda,
tak perlu negara dan masyarakat rugi puluhan trilyun rupiahnya,
dan kita akan berhemat dari mencaci dan mencela,
juga doa kita tidak akan sia-sia.


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS: Al-A'raf Ayat: 96)

Perubahan Besar Tak Melalui Jalan Demokrasi


Oleh : Fahmi Amhar

Banyak orang lupa, perubahan politik terjadi tidak melulu melalui Pemilu. Bahkan bisa dibilang, semua perubahan politik besar justru terjadi bukan melalui jalan Pemilu. Lihatlah bagaimana pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru, begitu juga berakhirnya rezim Orde Baru oleh gerakan reformasi. Semua terjadi bukan melalui Pemilu. Perubahan besar di Timur Tengah juga terjadi bukan melalui pemilu. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau orang memutlakkan Pemilu sebagai jalan perubahan untuk mencapai cita-cita politik.

Apalagi dalam kenyataannya, dalam konteks cita-cita politik Islam, Pemilu tidak pernah memberikan kesempatan kepada kekuatan politik Islam untuk benar-benar meraih tujuan politik islaminya. Lihatlah apa yang terjadi di Aljazair, begitu juga di Palestina, Turki dan yang terakhir di Mesir saat Presiden Muhammad Mursi yang meraih jabatan itu melalui Pemilu kemudian secara keji dikudeta oleh pihak militer dengan dukungan negara Barat. Bukan hanya mengkudeta Mursi, militer Mesir juga (bakal) membubarkan Ikhwanul Muslimin setelah sebelumnya membantai ribuan pendukung Mursi. Peristiwa ini seolah mengulangi apa yang sebelumnya terjadi pada FIS di Aljazair dan Erbakan di Turki. Keduanya memenangi Pemilu, bahkan Erbakan sempat menjabat sebagai Perdana Menteri Turki selama 2 tahun sebelum akhirnya dihentikan oleh militer. Di Aljazair, hasil Pemilu yang dimenangi oleh FIS dibatalkan, bahkan kemudian FIS menjadi partai terlarang dan lebih dari 30 ribu anggotanya, termasuk Ali Belhaj dan Abbas Madani—dua tokoh utama FIS—dipenjara.

Artinya, Pemilu dalam sistem demokrasi hanya memberikan jalan bagi kekuatan politik Islam untuk meraih tujuan politiknya, termasuk dalam melahirkan peraturan perundangan dan kebijakan publik, sepanjang hal itu tidak membahayakan kepentingan Barat dan keberlangsungan sistem sekularisme. Sekali muncul kekuatan politik Islam yang berhasil meraih kekuasaan, yang dengan kekuasaan itu bakal menegakkan Islam yang sebenarnya, seperti FIS yang memang telah menyiapkan konstitusi baru bagi Aljazair yang sepenuhnya berdasar Islam, atau dikhawatirkan condong pada Islam seperti Erbakan di Turki atau Mursi di Mesir, negara Barat tak segan akan menghentikan kekuatan politik itu dengan segala cara (at all cost). Karena itu, bagaimana kita masih saja terus percaya pada jalan ini, dan menggantungkan masa depan cita-cita politik kita padanya?

Menunggu Godot


Oleh: Arief B. Iskandar

Waiting for Godot (Menunggu Godot) adalah naskah klasik karya seorang sastrawan Irlandia bernama Samuel Beckett (1906-1989). Karya ini bercerita tentang penantian dua sahabat karib, Vladimir dan Estragon.

Dua sahabat ini menunggu Godot; sesuatu yang tak jelas sampai akhir cerita: apakah Godot itu manusia, dewa, Tuhan, penyelamat, uang, atau binatang. Namun, keduanya sepakat untuk tetap setia menunggu Godot.

Sambil menunggu, mereka ngobrol, berdebat, kadang sampai bertengkar meributkan sesuatu yang tak jelas. Ironisnya, mereka meributkan tentang apa yang sebaiknya dilakukan, namun kemudian mereka tak melakukan apapun. Mereka berdebat tentang rencana tidur selama menunggu Godot, namun kemudian tak jadi tidur karena takut Godot akan datang tanpa mereka ketahui. Mereka sepakat untuk gantung diri karena frustasi menunggu Godot yang tak kunjung datang. Namun, rencana ini batal karena mereka tak menemukan kata sepakat tentang siapa yang harus pertama kali bunuh diri. Begitu selalu. Mereka sibuk berdebat tanpa berbuat.

Entah berapa lama mereka melakukan penantian. Yang pasti, keduanya tak lagi sanggup mengingat apakah telah menunggu seharian, seminggu, sebulan, setahun, atau bahkan puluhan tahun.

Cerita berakhir dengan tragedi. Saat waktu terus berlalu, wajah dua sahabat itu makin keriput dan rambutnya memutih. Adapun Godot yang ditunggu tak kunjung tiba.

Lalu saat datang seseorang, yang lagi-lagi mereka pikir adalah Godot, ternyata orang itu adalah Malaikat Kematian. Akhirnya, hingga kematian itu menjemput, Godot tak pernah datang. Alhasil, menunggu Godot tak hanya menunggu ketidakpastian, tetapi juga merupakan kesia-siaan atau penantian penuh kekonyolan. Dari sini muncullah istilah ‘Menunggu Godot’.

*****

Banyak orang, di negeri ini khususnya, tanpa mereka sadari, berperilaku tak beda dengan Vladimir dan Estragon. Di bawah sistem sekular-kapitalis-demokrasi, sudah lama bangsa ini menunggu-nunggu datangnya kemakmuran, kesejahteraan, keadilan dan segala aneka kebaikan. Paling tidak, setiap menjelang dan sehabis “pesta demokrasi” alias Pemilu/Pilkada, harapan tentang semua itu kembali muncul.

Kita lalu menggantungkan seluruh harapan itu kepada wakil rakyat dan rezim yang baru hasil Pemilu/Pilkada. Kemudian kembali kita menunggu-nunggu apa yang bakal dilakukan penguasa atau rezim baru itu. Kita menunggu, menunggu dan terus menunggu. Kita menunggu para elit politik bersih dari korupsi dan berharap mereka peduli rakyat. Kita menunggu pemimpin yang benar-benar memenuhi janji-janji kampanyenya saat Pemilu/Pilkada. Kita terus menunggu dan tetap setia menunggu demokrasi benar-benar membuktikan kesejatian dirinya: berpihak kepada rakyat. Bukankah demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat?

Dalam proses menunggu itu, banyak dari kita—seperti Vladimir dan Estragon—berbual tentang harapan bahwa apa yang ditunggu-tunggu itu pasti datang. Kita menunggu perubahan dan menggantungkan harapan untuk sebuah masa depan yang lebih baik. Faktanya, perubahan ke arah yang lebih baik tak kunjung datang, sementara masa membeku sepanjang waktu kita menunggu. Akhirnya, kita bagaikan orang yang terpenjara. Ya, kita terpenjara oleh harapan semu, bahkan palsu, yang ironisnya diciptakan oleh diri kita sendiri.
Mengapa?

Kitalah yang terlanjur memercayai demokrasi. Kita telah lama tersihir oleh namanya ‘daulat rakyat’. Kita terbuai oleh jargon-jargon ‘indah’ seperti: “demokrasi mendatangkan kesejahteraan”, “demokrasi meniscayakan keadilan”, “demokrasi adalah keniscayaan”, bahkan “demokrasi adalah sistem politik terbaik”.

Demikianlah, demokrasi ibarat mantra yang harus terus kita rapalkan. Karena itu saat ternyata demokrasi hanya mewariskan mimpi—mimpi tentang kemakmuran, kesejahteraan, keadilan dan kebaikan—banyak orang tetap yakin bahwa yang salah bukan demokrasinya, tetapi para aktor politik yang hanya menjadikan demokrasi sebagai topeng. Demokrasi tak mungkin salah. Demokrasi tetap istimewa. Demokrasi tetap menjadi kredo yang tak boleh dibantah. Akhirnya, tak ada seorang pun yang berani menggugat demokrasi sebagai sebuah sistem gagal.

Padahal demokrasi hanya sukses dalam satu hal: memperdaya rakyat justru atas nama rakyat. Hampir setiap usai ‘pesta demokrasi’ alias Pemilu/Pilkada, lalu lahir rezim baru, rakyat kembali ditipu, rakyat lagi-lagi dizalimi, rakyat kembali dibuat sengsara, justru atas nama demokrasi. Pada akhirnya, rakyat hanya dibuat terus menunggu dan menunggu. Padahal yang ditunggu-tunggu—yakni segala kebaikan yang dijanjikan demokrasi—tak akan pernah benar-benar datang, seperti halnya Godot. Tak ada kemakmuran. Tak ada kesejahteraan. Tak ada keadilan. Jika pun ada, semua itu hanyalah bagi segelintir orang. Alhasil, kita sering hanya disuguhi janji kosong.

Barangkali benar, bahwa berharap ada kebaikan pada demokrasi adalah seperti berharap Godot datang. Padahal itu hanya mitos yang diciptakan oleh demokrasi serta para pemuja dan pengusungnya untuk meninabobokan masyarakat. Jika demikian, lalu apa yang mesti kita lakukan?

Sebagai Muslim, tentu kita harus punya harapan. Allah SWT sendiri mengajari kita agar kita selalu berharap, berdoa dan bersandar kepada-Nya. Allah SWT memaklumkan kepada kita agar selalu optimis menatap masa depan. Mengapa? Karena Allah SWT sendiri yang bakal memenuhi setiap harapan, menjawab setiap doa dan mengabulkan setiap permohonan.

Namun demikian, semua itu bukan tanpa syarat. Apa syaratnya? Tidak lain kita harus menjadi orang yang bertakwa kepada Allah SWT dengan takwa yang sebenar-benarnya. Hanya dengan takwalah harapan tentang kemakmuran, kesejahteraan, keadilan dan aneka kebaikan—yang terangkum dalam kata ‘keberkahan’—bisa benar-benar mewujud dalam kenyataan. Allah SWT berfirman:

Jika saja penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membukakan untuk mereka pintu keberkahan dari langit dan di bumi (TQS al-A’raf [7]: 96).

Takwa yang sempurna tidak lain dengan mengamalkan dan menerapkan syariah-Nya secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, tentu dalam institusi Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah.

Inilah yang layak kita tunggu-tunggu karena kehadiran kembali Khilafah telah di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah saw., tentu seraya kita terus berjuang dan berupaya keras untuk mewujudkan Khilafah itu dalam realitas kehidupan kita.

Jika Khilafah ‘ala mihaj an-Nubuwwah benar-benar terealisasi kembali, insya Allah, kemakmuran, kesejahteraan, keadilan dan aneka kebaikan akan kita nikmati. Saat itu terjadi, ‘Godot’ mungkin sudah lama mati dan membusuk!

Wa ma tawfiqi illa bilLah. []

Taubat



Oleh : A Dimmy Zulhifansyah

Taubat sesungguhnya merupakan panggilan Allah. Manusia sama sekali tidak bisa membuat dirinya sendiri ingin bertaubat. Allah sendirilah yang menumbuhkan keinginan bertaubat di dalam kalbu Anda.

Sebagaimana firman-Nya :
"Barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak akan mampu menempuh jalan itu kecuali bila dikehendaki Allah." (QS. 76 : 29-30)
"...Bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. 81 : 28-29)

Keinginan taubat itu timbul karena dipilih-Nya. Maka dari itu, jika sekarang dalam hati anda mulai timbul kegelisahan makna hidup atau keinginan kembali kepada-Nya, mulai timbal akan ketenteraman bersama-Nya, mulai ingin mencari jalan-jalan yang mendekatkan diri kita kepada-Nya. Itu adalah panggilan-Nya. Maka sambutlah panggilan-Nya itu.

Jika kemudian mulai tumbuh perilaku kita yang 'mencari jejak-Nya', seperti mencari-cari pengajian yang baik, mencari-cari bahan di internet, mulai mencari-cari buku tentang Tuhan dan agama, maka syukurilah. Ini berarti bahwa Dia masih mengingat anda. Dia masih memanggil anda untuk mendekat, untuk pulang kepada-Nya. Allah sendirilah yang menumbuhkan keinginan ke dalam hati anda.

Oleh karena itu, janganlah kita sia-siakan kesempatan ini. Jangan abaikan panggilan-Nya ini. Jangan sampai Dia merasa panggilan-Nya kita abaikan. Karena sebagaimana kita pun, jika orang yang kita harapkan terus mengabaikan kita, lama-kelamaan kita akan melupakan orang itu. Camkanlah, bahwa tidak setiap orang akan dipanggil-Nya. Tidak setiap orang terpilih untuk ditaubatkan-Nya. Sangat sedikit orang yang ditumbuhkan keinginan untuk mulai mencari Allah di dalam hatinya.

Perhatikanlah, bahwa amat banyak orang mencari pengajian dengan niat mencari kawan, mencari kelompok, mencari pengakuan orang lain sebagai 'orang pengajian', mencari ketenteraman sesaat, meniti karir di partai politik, mencari hapalan dan pengetahuan ayat, mencari bahan diskusi dan sebagainya. Sangat sedikit, sekali lagi sangat sedikit, orang yang benar-benar mencari pemahaman akan hakikat hidup maupun kesejatian (Al-Haqq).

Jika kita tidak mau bertaubat, tidak mengindahkan panggilan-Nya itu, maka kita termasuk orang yang zalim. Definisi 'zalim' menurut Al-Qur'an adalah tidak mau bertaubat.
"Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. 49 : 11)

Jika panggilan-Nya ini kita abaikan, maka kita akan semakin berputar-putar saja di dunia ini dan kalbu kita akan semakin buta saja. Oleh karena itu, akan semakin susah sajalah kita memperoleh petunjuk-Nya, ketika kalbu kita menjadi buta.
"Dan barang siapa yang berpaling dari dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. 20 : 124)
"Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah qaib-qaib (quluubun) yang ada di dalam dada." (QS 22 : 46)

Apakah "Taubat"?

Apakah taubat itu? Taubat bukanlah istighfar. Hanya semata mengucapkan 'astaghfirullah', walaupun seribu kali bukanlah taubat. Sebagaiamana Qur'an mengatakan: "Karena itu beristighfarlah kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya." (QS. 11 : 61). Maka dari ayat di atas, jelas nampak bahwa istighfar dan taubat adalah hal yang berbeda.

Kata 'taubat' berasal dari kata 'taaba' artinya 'kembali'. Taubat adalah sebuah 'keinginan', kegandrungan, kebutuhan akan Allah maupun segala yang dapat membuat kita lebih mengenal-Nya. Oleh karena itu, landasan taubat adalah mencari Allah, mencari kesejatian, mencari hakikat kehidupan ini. Orang bisa saja mengucap istighfar ribuan kali sehari, tapi sama sekali tidak bertaubat.

Orang bisa zikir ribuan kali, dengan niat supaya cerdas, supaya sakti, supaya bisa mengobati, supaya karir bagus, supaya lulus ujian dan macam-macam. Rajin shalat malam. Supaya berwajah cerah dan cantik. Rajin puasa, supaya sehat, supaya tidak gemuk. Dimana Allahnya? Mungkin Allah kita tempatkan nomor dua atau tiga.

Maka dari itu, pertama sekali kita murnikan niat kita dahulu. Kita niatkan semuanya hanya untuk kembali kepada-Nya (taubat), supaya semakin diberi-Nya petunjuk bagaimana taubat yang benar itu. Supaya diajari-Nya hakikat kehidupan ini.

Junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW mengucapkan do'a berikut ini, yang dibaca setiap kali beliau selesai berwudhu :
"Allahummaj'alni minat-tawwabiin, waj'alni minal muthahhiriin."

"Ya Allah, jadikan hamba termasuk ke dalam 'At-Tawwabiin' (mereka yang bertaubat), dan jadikan hamba termasuk ke dalam 'Al-Muthahhiriin' (mereka yang disucikan)."

Bahkan Rasulullah SAW pun masih memohon kepada Allah untuk dimasukkan ke dalam golongan orang yang bertaubat. Bukankah Rasulullah telah suci, bebas dosa dan telah dijamin surga Allah ta'ala?

Sumber : Majalah Hilal edisi 22