3/29/2016

Bak penjual dengan pembeli.


Cicalengka, 5/7/2015
sore ini saya akan bercerita beberapa hal yang kemarin belum sempat saya tulis. pagi yang cerah kala itu menyapa kantor desa, saya dan kawan-kawan kelompok kkn telah membuat janji untuk bertemu dengan pak kepala desa. kepala desa belum juga datang, setelah 15 menit larut dari perjanjian, namun bukan hal tersebut yang akan dibahas lebih mendalam, namun wajah saya tersorot pada fenomena yang memang lazim saya temui. “assalamu’alaikum, punten pak, abdi bade ngadamel KTP”1 imbuh salah seorang warga, “mangga, bla, bla, bla….”2 panjang lebar percakapan antara aparat desa dengan salah seorang warga. diakhir pembicaraan sang warga bergumam, “punten pak, sabarahaeun?”3 “ah, mun aya syukur, teu oge teu nanon”4 saut sang aparat desa. beginilah wajah administrasi negeri ini, yaa Indonesia! dimana hubungan antara pemimpin dengan masyarakat bagaikan hubungan antara penjual dengan pembeli, bagaikan penyewa dengan pihak yang memberikan sewa, bukan ibarat pelindung dan pelayan, sang pemimpin melindungi dan melayani masyarakatnya. mari kita lihat figur khalifah umar bin abdul azis, saat pertama kali dirinya dibaiat oleh umat untuk menjadi khalifah, ucapan pertama yang beliau lontarkan adalah “innaillahi wa innalillahi roji’un”. beliau sangat berhati-hati dengan amanah tersebut, karena beliau meyakini bahwa, jabatan yang umat serahkan adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban di hari perhitungan. di hari pertama setelah beliau dilantik, bala tentara yang jumlahnya puluhan yang oleh khilafah sebelumnya disiapkan untuk menjaga istana negara, beliau instruksikan untuk menyebar ke seluruh wilayah kekhilafahan, dengan maksud agar tak ada sekat antara pemimpin dan masyarakat, cukup satu tentara yang beliau tempatkan di dalam istana. tak hanya itu, gubernur-gubernur korup paska peninggalan kekhilafahan sebelumnya beliau copot kekuasaannnya dan beliau ganti dengan gubernur yang amanah dan mampu melindungi dan melayani rakyat. lalu bagaimana lagi upaya yang dilakukan oleh khalifah umar bin abdul azis agar umat terlindungi dan terlayani oleh negara? pernikahan bagi masyarakat yang tak mampu, beliau gratiskan dan utang rakyat yang tak mampu membayarnya beliau bayarkan. bahkan kas BMT Negara yang semestinya dibagikan kepada masyarakat yang tak mampu sudah tak sanggup lagi dibagikan, karena tak ada lagi masyarakatnya yang di bawah garis kemiskinan. masya Allah.
kegiatan penerimaan oleh kepala desa telah selesai… sepulang dari kantor desa, kami disambut oleh anak-anak yang sedang bermain di depan posko, permainan tradisional unik yang baru pertama kali saya lihat, namanya bermain biji karet. rulenya, adalah sekumpulan biji karet yang digenggam di tangan lalu disebar ke atas lantai, dan setelah bersebaran bebas, satu demi satu biji harus saling ditubrukkan menggunakan jari, jika biji yang kita hempaskan oleh jari mengenai lebih dari satu biji yang lain, maka permainan harus dipindahkan ke pemain yang lain, siapa yang mendapatkan biji paling banyak, maka ia berhak mendapatkan predikat juara :) siang beranjak sore, sesaat menjelang adzan maghrib, anak-anak yang tadi bermain dengan kami (saya dan kawan-kawan KKN) masih bertahan di posko dan berniat berbuka puasa bersama dengan kami. “kalau aku, kakak yang paling diinget waktu KKN tahun kemarin, kak indra” sahut seoarang anak perempuan kelas lima SD. ”soalnya kak indra tuh ganteng, hitam manis” lanjut dia menambahkan. ehm, ada yang menarik dari percakapan mereka, percakpan tersebut hemat saya adalah representasi realita generasi muda saat ini, dimana bentuk fisik adalah penilaian pertama yang terngiang dari representasi seseorang, bukan lagi karakter, bukan lagi dikenal karena ia rajin ke masjid bukan lagi dikenal karena jilbabnya yang syar’i, bukan lagi dikenal karena rajinnya ia membaca qur’an. rindu rasanya mendengar ucapan “kalau aku kakak yang paling di sayang adalah kak fitri, karena kak fitri jilbabnya lebar dan suka ngajak aku ke masjid”. seneng dengernya kalau seoarang anak perempuan mengidolakan kakak perempuan, bukan kakak laki-laki.
wallahu'alam
1 “Assalamu’alaikum, maaf pak saya mau membuat KTP”
2 “silahkan, bla… bla… bla…”
3 “maaf pak, saya harus bayar berapa?”
4 “ah, kalau ada syukur, kalau ndak ada ndak apa-apa”

No comments:

Post a Comment