Cicalengka, 5/7/2015
sore
ini saya akan bercerita beberapa hal yang kemarin belum sempat saya
tulis. pagi yang cerah kala itu menyapa kantor desa, saya dan
kawan-kawan kelompok kkn telah membuat janji untuk bertemu dengan pak
kepala desa. kepala desa belum juga datang, setelah 15 menit larut
dari perjanjian, namun bukan hal tersebut yang akan dibahas lebih
mendalam, namun wajah saya tersorot pada fenomena yang memang lazim
saya temui. “assalamu’alaikum, punten pak, abdi bade ngadamel
KTP”1
imbuh salah seorang warga, “mangga, bla, bla, bla….”2
panjang lebar percakapan antara aparat desa dengan salah seorang
warga. diakhir pembicaraan sang warga bergumam, “punten pak,
sabarahaeun?”3
“ah, mun aya syukur, teu oge teu nanon”4
saut sang aparat desa. beginilah wajah administrasi negeri ini, yaa
Indonesia! dimana hubungan antara pemimpin dengan masyarakat bagaikan
hubungan antara penjual dengan pembeli, bagaikan penyewa dengan pihak
yang memberikan sewa, bukan ibarat pelindung dan pelayan, sang
pemimpin melindungi dan melayani masyarakatnya. mari kita lihat figur
khalifah umar bin abdul azis, saat pertama kali dirinya dibaiat oleh
umat untuk menjadi khalifah, ucapan pertama yang beliau lontarkan
adalah “innaillahi wa innalillahi roji’un”. beliau sangat
berhati-hati dengan amanah tersebut, karena beliau meyakini bahwa,
jabatan yang umat serahkan adalah amanah yang akan dimintai
pertanggung jawaban di hari perhitungan. di hari pertama setelah
beliau dilantik, bala tentara yang jumlahnya puluhan yang oleh
khilafah sebelumnya disiapkan untuk menjaga istana negara, beliau
instruksikan untuk menyebar ke seluruh wilayah kekhilafahan, dengan
maksud agar tak ada sekat antara pemimpin dan masyarakat, cukup satu
tentara yang beliau tempatkan di dalam istana. tak hanya itu,
gubernur-gubernur korup paska peninggalan kekhilafahan sebelumnya
beliau copot kekuasaannnya dan beliau ganti dengan gubernur yang
amanah dan mampu melindungi dan melayani rakyat. lalu bagaimana lagi
upaya yang dilakukan oleh khalifah umar bin abdul azis agar umat
terlindungi dan terlayani oleh negara? pernikahan bagi masyarakat
yang tak mampu, beliau gratiskan dan utang rakyat yang tak mampu
membayarnya beliau bayarkan. bahkan kas BMT Negara yang semestinya
dibagikan kepada masyarakat yang tak mampu sudah tak sanggup lagi
dibagikan, karena tak ada lagi masyarakatnya yang di bawah garis
kemiskinan. masya Allah.
kegiatan
penerimaan oleh kepala desa telah selesai… sepulang dari kantor
desa, kami disambut oleh anak-anak yang sedang bermain di depan
posko, permainan tradisional unik yang baru pertama kali saya lihat,
namanya bermain biji karet. rulenya,
adalah sekumpulan biji karet yang digenggam di tangan lalu disebar ke
atas lantai, dan setelah bersebaran bebas, satu demi satu biji harus
saling ditubrukkan menggunakan jari, jika biji yang kita hempaskan
oleh jari mengenai lebih dari satu biji yang lain, maka permainan
harus dipindahkan ke pemain yang lain, siapa yang mendapatkan biji
paling banyak, maka ia berhak mendapatkan predikat juara :) siang
beranjak sore, sesaat menjelang adzan maghrib, anak-anak yang tadi
bermain dengan kami (saya dan kawan-kawan KKN) masih bertahan di
posko dan berniat berbuka puasa bersama dengan kami. “kalau aku,
kakak yang paling diinget waktu KKN tahun kemarin, kak indra” sahut
seoarang anak perempuan kelas lima SD. ”soalnya kak indra tuh
ganteng, hitam manis” lanjut dia menambahkan. ehm, ada yang menarik
dari percakapan mereka, percakpan tersebut hemat saya adalah
representasi realita generasi muda saat ini, dimana bentuk fisik
adalah penilaian pertama yang terngiang dari representasi seseorang,
bukan lagi karakter, bukan lagi dikenal karena ia rajin ke masjid
bukan lagi dikenal karena jilbabnya yang syar’i, bukan lagi dikenal
karena rajinnya ia membaca qur’an. rindu rasanya mendengar ucapan
“kalau aku kakak yang paling di sayang adalah kak fitri, karena kak
fitri jilbabnya lebar dan suka ngajak aku ke masjid”. seneng
dengernya kalau seoarang anak perempuan mengidolakan kakak perempuan,
bukan kakak laki-laki.
wallahu'alam

No comments:
Post a Comment